Sebaliknya, peliputan yang mengabaikan prosedur keselamatan justru dapat menimbulkan risiko tambahan bagi jurnalis maupun petugas di lapangan.
BACA JUGA:KPK Ungkap Peran Eks Kepala BNPB ke Puspom TNI, Usut Korupsi Dana Bencana Rp 148 Miliar
"Jangan sampai memasuki zona bahaya, tidak ada berita seharga nyawa," lugasnya.
Untuk memperkuat kemampuan jurnalis, bimtek tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari lembaga kebencanaan dan praktisi.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memberikan materi mengenai potensi bahaya vulkanologi di Jawa Timur.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika membahas ancaman hidrometeorologi serta potensi gempa bumi dan tsunami.
BACA JUGA:KPK Geledah Ruangan Kepala BNPB, Usut Korupsi Dana Bencana
BPBD Provinsi Jawa Timur turut menjelaskan sistem komando penanganan darurat bencana agar jurnalis memahami koordinasi antarpihak.
Materi ini penting agar wartawan paham alur informasi serta mekanisme penanganan ketika bencana terjadi.
Dari sisi praktik jurnalistik, peserta mendapatkan pembekalan mengenai jurnalisme bencana.
BACA JUGA:Adik Eks Kepala BNPB Diduga Pakai Dana Bencana Rp 30,98 Miliar untuk Beli Saham
Palang Merah Indonesia juga memberikan materi kesehatan mental dan dukungan psikologis bagi jurnalis yang berhadapan dengan situasi traumatis, seperti menyaksikan korban meninggal atau penderitaan penyintas.
Adapun praktisi keselamatan dan keamanan membahas perlindungan fisik, digital, psikologis, serta hukum bagi wartawan saat bertugas.
BACA JUGA:BNPB Serahkan Huntara untuk Warga Terdampak Bencana NTT, Pastikan Tahan Gempa
Melalui pembekalan tersebut, BNPB berharap jurnalis tidak hanya mampu menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga memahami risiko di lapangan dan menjaga integritas pemberitaan. (ain)