Dari cara Gus Kikin berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan mereka yang secara sosial tidak berada dalam lingkaran elite, tampak sebuah prinsip sederhana: nilai sebuah percakapan tidak ditentukan oleh status orang yang berbicara, melainkan oleh bobot gagasan yang dibicarakan. Sikap semacam ini sangat relevan bagi NU hari ini.
BACA JUGA:Pimpin PBNU, LaNyalla Optimistis Gus Kikin Mampu Penuhi Harapan Presiden
Organisasi sebesar NU tidak mungkin hanya dibangun dari suara mereka yang berada di pusat struktur. NU membutuhkan ruang bagi para kiai, ulama, intelektual, akademisi, aktivis, profesional, anak muda, pesantren, dan warga nahdliyin di akar rumput untuk menyampaikan pikiran. Sebab organisasi yang besar tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mendengar.
Kepemimpinan yang kuat bukanlah kepemimpinan yang selalu berbicara paling banyak, melainkan kepemimpinan yang mampu mendengar lebih jauh daripada yang terdengar. Singkatnya, akhlak sebelum Keekuasaan. Mungkin inilah pelajaran paling penting dari Gus Kikin.
Sebelum seseorang berbicara tentang kepemimpinan, ia perlu memperlihatkan akhlak kepemimpinan itu sendiri. Sebab kekuasaan dapat membuat seseorang terlihat besar di mata manusia. Tetapi akhlaklah yang menentukan apakah kebesaran itu memiliki makna. Kerendahan hati bukan berarti kelemahan.
Gempur Rokok Illegal--
Tidak memotong pembicaraan bukan berarti tidak memiliki pendirian. Mendengarkan pendapat orang lain bukan berarti kehilangan otoritas. Justru sebaliknya. Orang yang mampu mendengarkan tanpa kehilangan dirinya adalah orang yang memiliki kematangan dalam memimpin.
Gus Kikin menunjukkan bahwa kewibawaan tidak selalu lahir dari suara yang keras, gestur yang dominan, atau kalimat yang panjang. Terkadang kewibawaan justru hadir dari ketenangan, kesabaran, dan kemampuan membuat orang lain merasa dihargai.
Dari Tebuireng untuk PBNU
Kini, ketika Gus Kikin dipercaya menakhodai PBNU periode 2026–2031 bersama Kiai Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam, kualitas manusiawinya itu menjadi modal penting dalam perjalanan organisasi. Tentu, kepemimpinan PBNU lima tahun ke depan tidak cukup hanya mengandalkan karakter personal.
BACA JUGA:Ketum PBNU Terpilih Gus Kikin Tegaskan Qanun Asasi Pedoman Masa Depan
NU menghadapi tantangan organisasi, kaderisasi, tata kelola, transformasi digital, ekonomi umat, pendidikan, politik kebangsaan, hingga perubahan sosial yang bergerak sangat cepat. Tetapi semua agenda besar itu membutuhkan satu fondasi yang sering kali justru terlupakan: kemampuan untuk mendengar.
Mendengar sebelum memutuskan. Mendengar sebelum mengoreksi. Mendengar sebelum menyimpulkan. Dan, yang paling penting, mendengar bukan hanya suara mereka yang berada di dalam lingkaran kekuasaan.
Jika kebiasaan itu mampu dibawa dari Tebuireng ke PBNU, maka kepemimpinan Gus Kikin berpotensi menghadirkan sesuatu yang sangat berharga: organisasi yang besar secara struktur, tetapi tetap rendah hati secara kultur. Itulah sisi yang tidak banyak terlihat dari Gus Kikin.
BACA JUGA:Gus Kikin Resmi Jadi Ketum PBNU Periode 2026–2031
Di depan publik, orang mungkin mengenal Gus Kikin sebagai Pengasuh Tebuireng. Setelah Muktamar, ia dikenal sebagai Ketua Umum PBNU. Namun di balik jabatan itu terdapat sisi lain yang jauh lebih sunyi: seorang kiai yang bersedia duduk, berbincang, mendengarkan, dan memberi ruang kepada orang lain untuk menyampaikan pikirannya.