Sisi Lain Gus Kikin: Santun saat Mendengar dan Berbicara, Terbuka pada Gagasan

Senin 21-09-2026,15:31 WIB
Reporter : Abdul Aziz
Editor : Fatkhul Aziz

Oleh: Abd. Aziz

Founder dan Senior Managing Partner Firma Hukum PROGRESIF LAW Jakarta; Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK); Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU)

 

Ada orang yang menjadi besar karena jabatan. Ada pula orang yang justru memperlihatkan kebesarannya dengan tidak menjadikan jabatan sebagai jarak. Kiai Abdul Hakim Mahfudz—akrab disapa Gus Kikin, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur—bagi saya memperlihatkan tipe yang kedua.

Di tengah kultur sosial yang sering kali menempatkan seseorang berdasarkan gelar, jabatan, pengaruh, dan status sosial, Gus Kikin justru menunjukkan sesuatu yang semakin langka: kerendahan hati yang tidak dibuat-buat. Ia teduh dalam bertutur. Tenang dalam bersikap. Tidak mudah memperlihatkan ego. Dan yang paling menarik, ia memiliki kesediaan untuk mendengarkan.

BACA JUGA:Gus Kikin dan Ujian Besar Membenahi ''Konstitusi'' NU: Sebuah Kontribusi Pemikiran

Bagi sebagian orang, mendengarkan mungkin merupakan perkara sederhana. Tetapi bagi seseorang yang berada dalam posisi terhormat, memiliki otoritas, dan menjadi pusat perhatian banyak orang, kemampuan mendengarkan sesungguhnya merupakan kualitas kepemimpinan yang tidak sederhana.


Mini kidi--

Gus Kikin tidak terburu-buru memotong pembicaraan. Ia memberi ruang kepada lawan bicaranya untuk menyelesaikan pikiran. Ia tidak tampak sibuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tahu. Bahkan ketika berhadapan dengan seseorang yang jauh lebih muda dan tidak memiliki status sosial yang menonjol, sikapnya tetap sama: manusia diperlakukan sebagai manusia.

Di situlah sisi tersembunyi Gus Kikin yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar jabatan formal yang kini disandangnya. Kebesaran yang tidak menciptakan jarak. Ada pemimpin yang ketika memperoleh kedudukan semakin sulit ditemui. Ada pula yang ketika semakin tinggi posisinya justru semakin mudah diajak berbicara. Gus Kikin berada pada kategori kedua.

BACA JUGA:Pemuda Lumajang Atho' Illah Tulis Biografi Gus Kikin, Ketua Umum PBNU Terpilih

Pengalamannya sebagai pengasuh pesantren dan tokoh Nahdlatul Ulama tidak membuatnya merasa perlu menciptakan tembok sosial dengan orang lain. Ia tidak menjadikan status sebagai ukuran utama dalam membangun komunikasi. Hal itu terasa dalam percakapan-percakapan yang berlangsung jauh sebelum Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.

Beberapa bulan sebelum Muktamar, misalnya, Gus Kikin tidak segan berbincang dengan saya yang bukan siapa-siapa. Sekadar anak muda yang menggawangi berdirinya Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU. Yang menarik bukan semata-mata siapa yang berbicara dengan siapa. Yang lebih penting adalah apa yang dibicarakan.

Percakapan itu tidak berhenti pada persoalan pribadi, apalagi sekadar basa-basi. Ada kegelisahan tentang masa depan NU. Ada gagasan tentang bagaimana PBNU harus bergerak maju. Ada pembicaraan mengenai organisasi yang perlu semakin modern, profesional, terbuka terhadap pemikiran, tetapi tetap berakar kuat pada tradisi dan khazanah ke-NU-an.

BACA JUGA:Menakar Peta Jalan Gus Kikin dan Kiai Miftach dalam Menghadapi Tantangan Organisasi dan Keumatan

Di sana terlihat bahwa Gus Kikin tidak hanya mendengarkan orang-orang yang datang membawa jabatan. Ia juga mendengarkan gagasan. Dan pemimpin yang mampu mendengarkan gagasan dari siapa pun sesungguhnya sedang menunjukkan kualitas intelektual sekaligus kualitas akhlak.

Tidak Bertanya: “Siapa Anda?”, tetapi “Apa Gagasan Anda?”

Ada perbedaan besar antara pemimpin yang hanya ingin mendengar orang-orang penting dan pemimpin yang ingin mendengar pemikiran yang penting. Yang pertama menjadikan status sebagai pintu masuk. Yang kedua menjadikan gagasan sebagai pintu masuk. 

Kategori :