Dermaga Cinta Berduri (6): Akhir Sebuah Dermaga Cinta

Sabtu 19-09-2026,06:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Mochamad Syaifudin

Titi mulai memahami bahwa ketakutan tidak boleh menentukan masa depannya, tidak boleh lagi menjadi rantai yang mengekangnya. “Kalau kamu benar-benar merasa gak sanggup menghadapi semuanya sendiri, bicara sama orang tuamu. Cari bantuan.” “Aku cuma butuh kamu.”

Titi menggeleng. “Jangan jadikan aku satu-satunya alasan.” Elan menatapnya. “Jadi kamu benar-benar gak mau?” Pertanyaan itu membuat Titi menangis, pecah dalam kepedihan yang tak bernama. Titi mendekat, membawa sisa-sisa keberanian terakhirnya. “Aku mau kamu tahu sesuatu.”

Elan diam. “Aku gak pernah menganggap semua kebaikanmu gak ada.” Titi mengusap air matanya. “Waktu aku gak punya pekerjaan, kamu yang terus menyemangati aku. Waktu aku sakit, kamu perhatian. Banyak hal baik dalam hidupku yang pernah kamu bantu.” “Kalau begitu kenapa kita gak mulai lagi?” “Karena rasa terima kasih bukan alasan untuk menikah.” Elan terdiam, telak, tak punya pembelaan. “Kalau aku benar-benar berubah?”

BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (5): Luka yang Tak Berpamitan


Mini kidi--

Titi menarik napas panjang. “Berubahlah.” Elan menatapnya penuh harapan, seolah menemukan satu titik terang di ujung lorong gelap. Namun kalimat berikutnya mematahkan harapan itu, remuk redam tanpa sisa. “Berubah supaya perempuan mana pun yang suatu hari hidup bersamamu gak pernah merasakan apa yang aku rasakan.”

Air mata Elan jatuh, menghapus sisa-sisa harga diri yang tersisa. “Lalu kita?” Titi tersenyum dalam tangisnya. “Mungkin cerita kita memang cukup sampai di sini.” Elan menggeleng berkali-kali, menolak takdir yang terpampang di depan mata.

Hari itu Elan pulang bersama orang tuanya tanpa membawa jawaban yang diinginkannya, menyeret langkah berat di atas aspal yang mulai dingin. Keluarganya akhirnya memahami bahwa keadaan Elan perlu mereka dampingi.

Titi juga meminta mereka tidak meninggalkan Elan sendirian ketika emosinya sedang tidak stabil. Apa pun yang pernah terjadi, Titi tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya. Tetapi kepedulian itu bukan berarti Titi harus kembali menjadi kekasihnya. Ada batas antara peduli dan menyerahkan kembali hidup kepada seseorang. Dan Titi akhirnya belajar membuat batas itu, setajam belati yang memotong benang kusut.

BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (4): Antara Sisa Rindu dan Trauma Abadi


Gempur Rokok Illegal--

Malamnya, Titi duduk sendirian di kamar yang terlalu luas. Tidak ada rasa kemenangan. Ia justru menangis, membiarkan dadanya sesak oleh angin malam. Karena menolak seseorang yang pernah sangat dicintai ternyata sama menyakitkannya dengan ditinggalkan.

Titi tidak membenci Elan. Ia bahkan tetap berterima kasih atas semua kebaikan yang pernah diterimanya. Tetapi ia akhirnya mengerti bahwa seseorang tidak berutang masa depan hanya karena pernah ditolong di masa lalu.

Elan pun harus menerima kenyataan paling pahit di ujung malam: penyesalan bisa datang dengan air mata, keseriusan, bahkan niat menikah, tetapi tidak semua luka masih menunggu permintaan maaf. Karena terkadang seseorang pergi bukan karena sudah tidak mencintai. Ia pergi karena akhirnya belajar mencintai dirinya sendiri. (atp/rdh/fer/habis)

 

Kategori :