Dermaga Cinta Berduri (5): Luka yang Tak Berpamitan
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--
Malam merangkak pelan, membawa sisa-sisa napas yang berat ketika Elan datang membawa keseriusan pada saat hati Titi sudah remuk untuk sekadar menunggunya. Sialan memang, luka tidak pernah tahu cara berpamitan dengan sopan.
“Aku mau datang sama Papa Mama.” Elan mengatakannya melalui telepon. “Jangan, Lan.” “Aku serius mau nikahin kamu.” “Masalah kita bukan itu.” “Aku akan berubah setelah kita menikah.” Kalimat itu justru membuat Titi semakin takut. “Kenapa harus setelah menikah?”
Elan terdiam. “Kalau kamu memang mau berubah, berubah untuk dirimu sendiri. Jangan jadikan pernikahan sebagai jaminan.” “Aku cuma mau kamu balik.” Suara Elan mulai bergetar. Titi memejamkan mata, membiarkan sunyi merayap di antara detak jantung yang hampir mati, waktu telah mengubah banyak hal, mengikis habis sisa-sisa keyakinan yang dulu dipeluk erat.
BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (4): Antara Sisa Rindu dan Trauma Abadi

Mini kidi--
Elan benar-benar datang bersama orang tuanya, membawa sisa-sisa asa yang sudah kehilangan arah. Wajahnya terlihat lelah. Matanya sembab seperti orang yang sudah beberapa malam tidak tidur dengan baik. Di hadapan keluarga, Elan menangis, menyerah pada keputusasaan yang telak. “Aku tahu aku banyak salah.”
Orang tuanya mencoba menenangkan. “Aku sayang Titi. Aku mau menikahi dia.” Titi menunduk, membiarkan bayang-bayang masa lalu berkelebat di kepala. Ada bagian kecil dalam hatinya yang terasa hancur melihat Elan seperti itu. Bagaimanapun, lelaki di hadapannya bukan orang asing yang datang tanpa permisi.
Elan pernah menjadi orang yang membantunya ketika menganggur, menjadi sandaran di tengah dunia yang kejam. Orang yang mendorongnya mendapatkan pekerjaan. Yang menemaninya ketika sakit, menghapus dingin dengan secangkir teh dan genggaman tangan. Yang pernah menjadi tempat pertama Titi mengadu ketika hidup terasa berat.
BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (3): Pergi untuk Menyelamatkan Diri

Gempur Rokok Illegal--
Titi tidak pernah melupakan semuanya; ingatan itu tertanam di dinding kepala, abadi dan menyesakkan. Tetapi ia juga tidak bisa melupakan ketakutan yang pernah dirasakannya, yang membuat tulangnya ngilu setiap kali malam tiba. “Ti… Kasih aku kesempatan terakhir.”Elan menatapnya, memohon belas kasihan.
Air mata Titi jatuh, mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah. “Aku sudah kasih banyak kesempatan, Lan.” “Kali ini beda.” “Kamu selalu bilang begitu.” “Aku mau nikahin kamu. Kurang serius apa aku?”
Titi menggeleng. “Menikahi aku bukan bukti bahwa kamu sudah berubah.” Ruangan mendadak sunyi, senyap yang mencekat tenggorokan. Elan mulai terisak, membiarkan air matanya tumpah di atas lantai dingin. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:







