pupuk
iklan ulta memorandum

Dermaga Cinta Berduri (4): Antara Sisa Rindu dan Trauma Abadi

Dermaga Cinta Berduri (4):  Antara Sisa Rindu dan Trauma Abadi

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Bangun pagi, bayangan Elan yang menyergap. Pulang kerja dengan langkah menyeret, wajah Elan pula yang menyambut di angan-angan. Saat tubuhnya menggigil diserang sakit, kepalanya spontan mencari-cari uluran tangan Elan yang biasa mengecek suhu keningnya.

Dan ketika badai masalah kantor menghantam, jemarinya secara otomatis bergerak sendiri mencari kontak Elan di daftar panggilan. Namun, tepat di detik yang sama nalurinya ingin menyerah pada rindu, memori kelam itu serta-merta bangkit menghantam. Bentakan bising. Kalimat-kalimat tajam setajam silet. Ngeri ketakutan yang mencekam. Serta jejak-jejak kekerasan fisik yang menorehkan trauma abadi di kulit dan jiwanya.

Titi terombang-ambing di atas perahu rapuh, terjepit di antara gelombang rindu yang membakar dan teror ketakutan yang membeku. Jiwanya merosot jatuh. Ia dihantam insomnia akut, menangis sesenggukan tanpa sebab yang masuk akal di hadapan dunia luar. Di kantor, ia berjam-jam hanya melongo menatap layar monitor kosong, tanpa sanggup merangkai satupun pekerjaan. “Kamu kenapa?” selidik seorang rekan kerja dengan nada cemas.

BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (3): Pergi untuk Menyelamatkan Diri


Mini kidi--

Titi buru-buru mendaratkan gelengan kaku. “Gak apa-apa.” Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia menjerit karena hancur berkeping-keping. Suatu malam, pertahanan Titi hampir runtuh ketika ia mengangkat telepon dari Elan:

“Aku kangen kamu.”. “Kamu gak kangen aku?”. “Kangen.” “Terus kenapa kita harus begini?” “Karena kangen gak menghapus apa yang sudah terjadi.” “Aku berubah.” “Aku ingin percaya.” “Ya sudah, pulang sama aku.” “Justru karena aku selalu pulang, mungkin kamu gak pernah benar-ar benar takut kehilangan aku.”

Titi memilih untuk bertahan dan tidak kembali. Ia belajar menyembuhkan diri, hingga akhirnya Elan mulai dilanda kepanikan dan mencoba mendekatinya kembali melalui pesan hingga penolakan tegas Titi: “Gak perlu, Lan.”

Ketika Elan menerornya lewat pesan tengah malam: “Aku gak bisa tidur.” “Setiap malam aku mikirin kamu.” “Aku tahu aku salah. Tapi aku gak sanggup kalau semuanya benar-benar selesai.”

BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (2): Menimbang Kebaikan, Menghitung Luka


Gempur Rokok Illegal--

Titi tetap bergeming. Elan yang depresi dan nekat bahkan berniat datang membawa orang tuanya untuk melamar Titi demi memaku status pernikahan. Saat Elan memohon dan menangis di hadapannya:

“Aku mau memperbaiki semuanya.” “Sudah terlambat, Lan.”

“Belum.” “Aku mau nikahin kamu.” “Apa?” “Aku serius.” “Aku akan datang sama orang tuaku.” “Lan, jangan.” “Aku mau buktiin kalau aku gak main-main.” “Masalah kita bukan karena kamu belum melamar aku.” “Lalu apa lagi?” “Masalahnya, aku sudah terlalu takut untuk kembali hidup sama kamu.” “Aku berubah.”

Sumber: