Selepas menyiksanya, Elan kembali berlagak pahlawan. Memastikan kabar kesehatannya, mengantar ke mana pun ia melangkah, hingga membereskan kerumitan hidupnya. Seolah-olah bilur-bilur lebam akibat kekerasan beberapa hari lalu tak pernah ada di atas bumi ini.
Titi terperangkap di antara dua dunia. Hidup bersama dua wajah Elan: Elan yang menebar cinta, dan Elan yang menebar teror. Suatu ketika, seorang sahabat karib menatapnya penuh tanya, “Kenapa kamu masih bertahan, Ti?”. Titi terdiam seribu bahasa, butuh waktu lama sebelum suaranya pecah. “Karena dia gak selalu jahat.”
Di situlah letak duri dalam dagingnya. Seandainya Elan bajingan setiap detik dalam hidupnya, talinya mungkin sudah lama ia putus. Tapi masalahnya, lelaki itu adalah orang yang sama yang berdiri di sampingnya tatkala ia tak punya apa-apa di dunia ini. “Dia banyak bantu aku.”ucap Titi. “Tapi dia juga nyakitin kamu, Titi.”tegas sahabatnya. “Aku tahu.” “Terus?”
BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (1) Saat Cinta Membawa Kehangatan dan Ketakutan
Mini kidi--
Titi menundukkan kepala, menatap ujung sepatunya sendiri. “Aku selalu berharap sisi baiknya yang menang.” Titi masih memelihara asa, meyakini bahwa suatu hari nanti sihir hitam itu akan hilang. Bahwa kelembutan dan kasih sayang adalah hakikat sejati Elan, sementara kekerasan hanyalah khilaf semata yang kelak akan usai.
Kendati demikian, garis batas itu kian hari kian menipis, melebur dalam ngeri. Puncak dari segala malapetaka itu pun tiba. Elan kembali lepas kendali, meraung-raung dalam amarah yang membabi buta. Ruangan terasa sempit dihantam bentakannya. Jika dulu Titi mencoba membela diri, malam itu ia hanya bisa membisu seribu bahasa. Seluruh tubuhnya bergetar hebat—bukan lagi demi memenangi argumen, melainkan karena rasa takut yang mencengkeram tulang sumsum.
Tatala Elan melangkah maju, Titi reflek merayap mundur ketakutan. “Jangan dekat-dekat.” Elan terkesiap, menghentikan langkahnya. Ada yang ganjil dari manik mata Titi malam itu. Tak ada lagi bara amarah, yang tersisa hanyalah genangan ketakutan yang pekat. “Ti…” rintuhnya. “Jangan.” Seketika itu pula kesadaran menghantam telak kepala Elan. Perempuan yang selama ini mengikrarkan cinta suci kepadanya, kini gemetar ketakutan hanya karena jarak mereka yang terlalu dekat. “Aku gak akan apa-apain kamu, sumpah.”
Titi terisak, air matanya tumpah tak terbendung. “Masalahnya aku sudah gak tahu kapan kamu akan baik dan kapan kamu akan menyakiti aku.”Kalimat itu menohok jantung Elan, membuatnya bungkam seribu bahasa tanpa sanggup membela diri. Malam itu, Titi melangkah pulang dengan kepingan jiwa yang berserakan di jalanan. Kenangan manis berputar di kepala: lelaki yang menolongnya saat menganggur, yang menemani di kala sakit, yang mendengarkan keluh kesah, yang meredakan sepi. Namun kini, seluruh memori indah itu bergandengan tangan dengan teror bentakan, hinaan, dan hantaman fisik.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (6): Pelajaran Pahit dari Akhir Penantian
Gempur Rokok Illegal--
Sepanjang malam Titi merajut tangis dalam gulita. Untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan beracun berbisik di lubuk hatinya: Apakah seseorang masih layak dipertahankan hanya karena pernah berbuat baik, tatkala orang yang sama terus-menerus meremukkan raga dan jiwa kita? Mentari berganti pagi, gawai Titi bergetar liar. Puluhan pesan singkat dari Elan berhamburan masuk ke layar. “Maafin aku, Ti.” “Aku janji berubah total.” “Aku gak bisa kehilangan kamu.”
Titi membaca rentetan kalimat itu satu persatu dengan kepala dingin. Dulu, mantra-mantra penyesalan itu selalu berhasil menyeretnya kembali ke pelukan sang algojo. Namun tidak untuk hari ini. Dengan jemari yang tenang namun pasti, ia mengetik sebuah balasan: “Aku gak pernah lupa semua kebaikanmu, Lan.” Jeda sesaat, tarikan napas panjang. Lalu ia merangkai kelanjutan kalimatnya: “Tapi aku juga gak bisa terus pura-pura lupa pada semua luka yang kamu buat.”
Pesan itu meluncur menembus udara, terkirim sudah. Dan untuk pertama kalinya sejak ikatan itu terajut, Titi berani menatap bayangannya sendiri dan memikirkan hal yang selama ini paling ia takuti di dunia: Pergi meninggalkan. (atp/rdh/fer/bersambung)