Rumah Tangga Bahagia Dibangun dengan Landasan Keimanan

Sabtu 12-09-2026,23:39 WIB
Editor : Mochamad Syaifudin

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Rumah tangga harmonis dan bahagia tidak hanya bersandar pada materi, tetapi juga pada nilai-nilai agama yang menjadi landasan kehidupan keluarga.

Setiap orang mendambakan kebahagiaan dalam rumah tangganya, tetapi sebagian orang menganggap kebahagiaan dapat diperoleh dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya.

Kekayaan melimpah diimpikan sebagai puncak kebahagiaan, padahal rumah tangga yang menjadikan materi sebagai sandaran hidup tanpa mengedepankan nilai-nilai agama dapat menghadapi berbagai persoalan.

Buruknya moral suami, istri, atau anak-anak, kegelisahan hidup, kecemasan mendalam, kebencian di antara anggota keluarga, hingga permusuhan dapat muncul dan menjadi permasalahan yang tidak kunjung padam.

Rumah tangga yang harmonis dan bahagia tidak bersandar pada materi semata, tetapi kebahagiaan juga terletak pada sejauh mana nilai-nilai agama mendominasi kehidupan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW yang penuh berkah, ketenteraman, dan kebahagiaan selayaknya menjadi panutan bagi kaum Muslimin.

Semasa hidup, Rasulullah SAW tidak pernah memiliki rumah mewah dan harta berlimpah, bahkan ketika Umar bin Khathab mengunjungi beliau, Rasulullah SAW didapati sedang berbaring di atas pelepah daun kurma.

BACA JUGA:Inspirasi Dua Srikandi Teh Rico di Podcast MemorandumTV, Bagikan Resep Selaraskan Karir dan Rumah Tangga


Mini kidi--

Punggung Rasulullah SAW bahkan tergores karena kerasnya pelepah daun kurma tersebut. Namun, dari kondisi yang sangat sederhana itu, beliau selalu mengucapkan, "Baiti jannati", yang berarti rumahku adalah surgaku.

Hal tersebut menjadi gambaran rumah tangga yang dibangun atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dalam rumah tangga Islami, seluruh anggota keluarga memiliki peran dan fungsi yang jelas serta saling menghormati peran masing-masing.

Suami merupakan pemimpin yang berakhlak shodiqul wa'di, yakni selalu menepati janji baik kepada Allah SWT maupun masyarakat, serta berperan menegakkan keadilan dan kasih sayang dalam memimpin keluarga.

"Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya" (QS Maryam [19]: 55).

BACA JUGA:22 Tahun Diperjuangkan, Buruh Apresiasi UU Pelindungan Pekerja Rumah Tangga Disahkan di Era Prabowo


Gempur Rokok Illegal--

Istri berkewajiban menaati suami dan bekerja sama dengannya dalam kebajikan dan takwa sehingga mampu mengayomi keluarga dengan kasih sayang yang tulus dan ikhlas. Anak-anak pun menjadi cahaya mata karena ketaatan dan kesalehan mereka.

"Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak keturunan kami sebagai cahaya mata (penyenang hati) bagi kami, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa" (QS Al-Furqan [25]: 74).

Dengan iman, seseorang dapat membedakan yang benar dan salah serta memahami baik dan buruk untuk kemudian berpihak pada kebaikan.

Dengan iman pula, setiap anggota keluarga mampu bersyukur ketika mendapatkan keberuntungan, betapapun kecilnya. Rumah tangga yang dibangun dengan landasan keimanan pada dasarnya telah membangun surga di dunia. (udi)

 
 
 
Kategori :