Cinta yang Mengikis Harga Diri (2): Bunga Berduri dan Jerat Asmara Berdarah

Selasa 18-08-2026,19:42 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Mochamad Syaifudin

Sampai akhirnya, malam jahanam itu pun merobek tirai kedamaian. Hanya karena telat membalas pesan—tidak sampai satu jam, Dama masih berkutat dengan setumpuk laporan kantor—Eka mengamuk sejadi-jadinya. 

Pesan demi pesan masuk menyerang bertubi-tubi, bukan lagi teguran, tapi tikaman. Dari mempertanyakan keberadaan, merembet ke tuduhan busuk, hingga menghantam fisik, pekerjaan, bahkan asal-usul daerahnya dihina tanpa ampun. 

Kata-kata kotor tumpah ruah dari layar kecil itu, mengoyak sisa-sisa martabat Dama sebagai manusia. Dama membaca semuanya dalam senyap. Jemarinya gemetar di atas papan ketik, hendak membalas, tapi dihapusnya lagi. Harga dirinya memberontak, teriak minta keadilan. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, batas kesabaran itu jebol. “Sudah, Ka. Kita selesai.”Dama mengakhiri drama percintaan dengan Eka.

BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (1): Cinta Lelaki yang Selalu Mengalah


Mini kidi--

Hubungan itu putus. Dama merasa terbebas dari rantai yang selama ini menyeretnya ke dasar jurang. Tapi esok harinya, dunia Dama seolah runtuh untuk kedua kalinya. Eka, dengan tanpa rasa malu, mengirim pesan langsung ke salah satu teman kantor Dama. “Aku sama Dama sudah putus.”tulis pesan itu.

Betapa hancurnya hati Dama ketika teman-temannya membaca layar ponselnya, melihat sendiri betapa keji perempuan itu merendahkannya. Rian menepuk bahunya dengan tatapan penuh iba. “Jangan balik lagi, Dam. Belajar menghargai dirimu sendiri.”ungkap Rian.

Dama mengangguk. Hari-hari berikutnya, di bawah dukungan Saka dan anak-anak kantor, ia mencoba bangkit. Tawanya mulai kembali. Ia pikir ia sudah selamat. Namun, racun candu asmara yang salah memang sulit dibersihkan.

BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (6): Restu yang Datang Bersama Waktu


Gempur Rokok Illegal--

Suatu sore, Rian mendapati Dama buru-buru membalikkan ponselnya saat meja kerjanya didekati. Nama Eka kembali mengerdip di layar. Dama berkilah, beribu alasan ia ucapkan. Padahal ia tahu, cinta yang beracun tidak pernah masuk lewat pintu depan; ia merayap lewat celah kecil bernama rindu palsu dan kata "maaf" yang manis di bibir tapi mematikan di lubuk hati.

Dama kembali membalas. Ia menyerahkan kembali lehernya untuk dijerat oleh rantai yang sama. Dan benar saja. Tak sampai beberapa minggu kemudian, pesan itu kembali mendarat di ponsel anak-anak kantor, dikirim langsung oleh tangan Eka yang penuh dusta: “Aku sama Dama sudah balikan.”tulis pesan itu.

Satu kalimat jeda, lalu disusul kalimat maut berikutnya: “Tapi sekarang kami berantem lagi.” (atp/rdh/fer/bersambung)

 

Kategori :