iklan HUT R!

Cinta yang Mengikis Harga Diri (3) Batas Kesabaran yang Kian Menipis

Cinta yang Mengikis Harga Diri (3)  Batas Kesabaran yang Kian Menipis

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Saat Dama masuk kantor pagi itu, suasananya terasa dingin. “Dam.”sapa Rian. “Iya?”jawab Dama. "Katanya sudah balikan?”tanya Rian. “Siapa bilang?” Dama mematung.

“Eka.” Wajah Dama pucat.

“Hebat. Putus dia yang kasih pengumuman. Balikan juga dia yang kasih pengumuman.” Salah seorang temannya tertawa sinis.

Dama mencoba tersenyum, meski tak ada yang menganggapnya lucu.

“Kenapa gak cerita?” Dama duduk dengan berat.

“Aku takut kalian nge-judge.”jawab Dama. “Bukan nge-judge.” Temannya menatap tajam. “Kami cuma gak ngerti. Setelah semua yang kamu tunjukkan kemarin, kamu balik lagi?” kepala Dama terlihat terkulai.

“Dia minta maaf. Dan dia janji berubah.” Kalimat itu begitu naif dan begitu familiar.

BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (1): Cinta Lelaki yang Selalu Mengalah


Mini kidi--

Awalnya memang indah. Eka kembali perhatian dan lembut. Setiap pagi mengirim pesan, malam harinya menelepon. Eka merangkak meminta ampun.

Eka bersumpah. Namun, kedamaian itu hanya sesaat. Suatu malam, Dama pulang terlambat karena pekerjaan. Ponselnya penuh panggilan tak terjawab. Saat diangkat, suara Eka langsung meledak.

“Kamu di mana?” tanya Eka. “Masih kantor.”jawab Dama. "Jangan bohong!”tanya Eka penuh penekanan

 “Aku bisa video call kalau kamu gak percaya.” Dama menarik napas.

Namun ampunan telah dikalahkan amarah. Eka kembali menghina dan merendahkan Dama, melemparkan kembali kesalahan-kesalahan yang sudah dimaafkan. Dama hanya bisa berbisik lirih.

“Ka, jangan ngomong seperti itu.”ucap Dama. “Kenapa? Sakit?”tanya Eka

Hening sejenak. Dama menanti belas kasih, namun yang terdengar justru tusukan tajam.

“Kalau gak mau sakit, ya jangan bikin aku marah!”ucap Eka.

BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (2): Bunga Berduri dan Jerat Asmara Berdarah


Gempur Rokok Illegal--

Malam itu telepon dimatikan. Dama terkurung di dalam mobil selama hampir satu jam, meratapi nasib dan bertanya pada dirinya sendiri: Berapa kali seseorang harus dimaafkan sebelum maaf kehilangan maknanya?

Keesokan harinya, bayang-bayang kesuraman melekat di wajah Dama. Sang bos memanggilnya ke ruangan.

“Dama, duduk.” Dama menurut. "Saya gak mau ikut campur urusan pribadi kamu.” “Iya, Pak.” “Tapi masalah pribadi kamu sudah mulai memengaruhi pekerjaan.”

Dama tertunduk. Bosnya berkata pelan,

“Sabar itu sifat baik. Tapi sabar bukan berarti membiarkan orang lain terus merendahkanmu.”

Kalimat itu menancap dalam. "Kalau hubungan membuatmu kehilangan fokus, teman, kepercayaan diri, bahkan rasa hormat terhadap dirimu sendiri… kamu perlu bertanya, sebenarnya apa yang sedang kamu pertahankan?”

Dama membisu. Siang itu, teman-temannya mengajaknya makan tanpa ada cacian, yang justru membuat Dama semakin tersiksa oleh rasa malu.

“Aku bodoh ya?” tanyanya tiba-tiba.

Temannya menggeleng.

“Gak.” "Terus?” "Kamu cuma masih berharap orang yang kamu cintai akan menjadi orang yang kamu bayangkan.”

Dama tersenyum pahit. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait