iklan HUT R!

Cinta yang Mengikis Harga Diri (1): Cinta Lelaki yang Selalu Mengalah

Cinta yang Mengikis Harga Diri (1): Cinta Lelaki yang Selalu Mengalah

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga.--

Sudah genap dua belas bulan Dama memikul salib cinta yang salah. Bagi orang luar, bertahan selama itu adalah bukti kesetiaan yang luar biasa. Tapi bagi Dama, itu adalah penjara harian di mana ia menjadi tahanan sekaligus algojo bagi jiwanya sendiri.

Setiap kali ia mencoba mengingat apa yang indah dari hubungan ini, kepalanya hanya dipenuhi dering suara Eka yang melengking tinggi, menuntut ini dan itu, menghakimi setiap jengkal napasnya. Malam merangkak pelan, tapi di dada Dama, waktu seolah berhenti pada detik yang paling menyiksa. 

Di sudut ruang kerjanya yang mulai sepi, lelaki itu menatap layar ponsel yang menyala redup. Nama Eka terpampang di sana, seperti belati tak berhulu yang siap menusuk ulu hati kapan saja. Bagi anak-anak kantor, Dama adalah lambang ketenangan. Lelaki Madura berdarah sabar yang tak pernah menumpahkan amarah di atas meja kerja, yang tawanya selalu renyah meski beban hidup menghimpit dada. 

BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (6): Restu yang Datang Bersama Waktu


Mini kidi--

Tapi mereka tidak tahu apa yang bersembunyi di balik senyum itu. Mereka tidak tahu bagaimana harga diri seorang lelaki diinjak-injak perlahan dalam sunyi. Setiap kali ponsel itu berdering menampilkan nama Eka, ada debar ngeri yang merayap di rongga dada Dama. 

Eka bukan sekadar kekasih; ia adalah badai yang menuntut seluruh dunia berputar mengitarinya. Ingin dijemput, ingin ditemani, ingin disembah layaknya ratu. Dan jika Dama telat sedetik saja, neraka kecil pun meletup.

BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (5): Ketulusan yang Tak Bisa Dibeli


Gempur Rokok Illegal--

“Kenapa kamu terus yang ngalah, Dam?” tanya Rian, sahabat karibnya. Dama tersenyum pahit, getirnya melebihi empedu. “Namanya juga perempuan, Ri. Gak apa-apa, nanti juga baik lagi.”ungkapnya. Ia pikir mengalah adalah bentuk cinta. Ia tidak tahu, bahwa setiap kali ia menelan ludah kepedihan atas nama kesabaran, ada sebongkah harga diri lelaki yang tanggal dan luruh ke lantai. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber: