MOJOKERTO, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Pemerintah Kota Mojokerto terus memperkuat budaya sadar bencana hingga ke lingkungan pondok pesantren. Melalui program Tagana Masuk Pesantren (TAMATREN), ratusan santri Pondok Pesantren Al Amin Putri mendapat pembekalan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana, Senin 20 Juli 2026.
Program yang digelar Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kota Mojokerto itu menjadi langkah nyata membentuk generasi muda yang tangguh dan memiliki kemampuan mitigasi bencana sejak dini.
BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Kunci Harga Mamin, 30 Penyedia Teken Kontrak Payung 11 Menu Nasi Kotak
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengatakan, pelaksanaan TAMATREN bukan sekadar menjalankan amanat regulasi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
“Meskipun sebagian besar santri berasal dari luar Kota Mojokerto, selama mereka tinggal di pondok pesantren yang berada di wilayah Kota Mojokerto, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memberikan edukasi kebencanaan,” ujar perempuan yang akrab disapa Ning Ita.
BACA JUGA:Gerak Cepat Hadapi Kemarau, Pemkot Mojokerto Gelar Tanam Serempak Jaga Ketahanan Pangan
Ia menjelaskan, Kota Mojokerto memang tidak termasuk daerah dengan tingkat ancaman bencana hidrometeorologi yang tinggi. Namun, sebagai bentuk kesiapsiagaan, pemerintah telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada 2025 serta mendorong pembentukan Kampung Tangguh Bencana di seluruh kelurahan.
Menurut Ning Ita, ancaman yang paling berpotensi terjadi di kawasan perkotaan justru kebakaran. Selama enam bulan pertama tahun 2026, tercatat sedikitnya tujuh kejadian kebakaran di Kota Mojokerto, bahkan salah satunya menimbulkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Gempur Rokok Illegal--
“Santri harus memahami cara mencegah kebakaran, menyelamatkan diri, dan tetap tenang ketika menghadapi kondisi darurat,” tegasnya.
Selain memberikan materi kebencanaan, peserta juga dikenalkan dengan layanan darurat Call Center 112 yang dapat diakses masyarakat selama 24 jam secara gratis untuk melaporkan kebakaran maupun kondisi kegawatdaruratan lainnya.
BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Gandeng Media Promosikan Wisata Sejarah dan Susur Sungai Ngotok
Sementara itu, Kepala Pondok Pesantren Al Amin Putri, Muhammad Ali Fahrudin, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, selain memperdalam ilmu agama, santri juga perlu dibekali keterampilan yang bermanfaat saat kembali ke tengah masyarakat.
“Kami berharap santri tidak hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga kemampuan menghadapi dan menanggulangi bencana. Semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat dan Kota Mojokerto senantiasa dijauhkan dari bencana,” katanya.