Segitiga Cinta (6): Akhir Duri Kesetiaan Jadi Karma Pengkhianatan

Minggu 12-07-2026,15:24 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Udin

"Bukan kau yang meruntuhkan istanaku, Lasmi."

Lasmi tertegun, lidahnya mendadak kelu.

"Rumah tangga kami sudah rapuh sejak suamiku lupa akan arti sebuah komitmen dan kesetiaan." Rara menghela napas, sejenak menatap langit-langit koridor sebelum kembali menghujamkan pandangannya pada Lasmi. 

"Namun, ingatlah satu hal ini, anak muda..."

Rara mendekat, membisikkan kalimat yang seketika membuat darah Lasmi berdesir dingin.

"Jika seorang lelaki tega mengkhianati dan membuang wanita yang telah menemaninya berjuang selama lebih dari tiga puluh tahun... jangan pernah kau merasa suci dan yakin bahwa suatu hari nanti, kau tidak akan mengalami nasib yang sama darinya."ucap Rara

Lasmi terpaku bagai patung garam. Kata-kata Rara bagai mantra kutukan yang menyadarkan batinnya. Di detik itu ia tahu, memenangkan hati seorang pria dari pelukan wanita lain tidak pernah menjanjikan sebuah surga kebahagiaan, melainkan awal dari kecemasan yang tiada akhir.

Palu hakim akhirnya mengetuk vonis terakhir. Ikatan suci itu resmi terputus di mata hukum. Keadilan berpihak pada kesucian yang terzalimi; harta bersama dibagi dengan seadil-adilnya, menyisakan Bima yang nyaris kehilangan seluruh kejayaannya.

BACA JUGA:Segitiga Cinta (2): Luka di Atas Lapangan Golf

Bima melangkah keluar dari ruang sidang dengan bahu yang merosot layu. Ia menoleh, menatap Rara untuk yang terakhir kalinya. Wanita itu—yang dahulu merawatnya dengan cinta saat mereka masih makan sepiring berdua—kini berdiri tegak dengan kepala mendongak menantang langit. Cantik, anggun, namun bukan lagi miliknya.

Malamnya, di sebuah apartemen sempit yang kini ditinggalinya bersama Lasmi, Bima duduk termenung menatap kegelapan kota dari balik kaca. Sunyi merayap mencekik lehernya. Di kamar sebelah, Lasmi mungkin sedang gelisah.

Terlihat sebuah penyesalan yang terlambat datang meremas dadanya. 

Kini ia sadar, dalam perjudian cinta terlarang ini, ia tidak hanya kehilangan harta dan rumah megahnya. Ia telah kehilangan perlindungan batinnya. Ia telah kehilangan seorang wanita sejati yang selama tiga puluh dua tahun selalu menjadi tempat jiwanya yang lelah untuk pulang.

Sementara itu, di tempat lain, Rara menyibak gorden kamarnya. Angin malam berembus lembut, membelai wajahnya yang kini tampak lebih bercahaya. Sebuah senyuman tulus mengembang di bibirnya.

Ia memang telah kehilangan seorang suami yang khianat. Namun, di atas puing-puing kehancuran itu, ia berhasil menyelamatkan sebongkah permata yang paling berharga dalam hidupnya: harga diri. 

Karena sesungguhnya, pembalasan tercantik dari seorang wanita yang terluka bukanlah dengan membalas kehancuran, melainkan dengan membuktikan kepada dunia, bahwa ia tetap mampu berdiri megah bagai karang, ketika badai pengkhianatan mencoba meruntuhkannya.(atp/rdh/fer/habis)

Kategori :