Harlah Kejaksaan RI
iklan ulta memorandum

Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (2): Bertahan Lama Namun Berujung Pahit

Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (2): Bertahan Lama Namun Berujung Pahit

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga pada pertemuan.--

Roda waktu berputar kejam, membawa mereka melangkah bersama menapaki gerbang perguruan tinggi di almamater yang sama. Mereka tumbuh dewasa beriringan di bawah langit yang sama. Melewati terjalnya tugas-tugas kuliah, percekcokan kecil yang merajut rindu, hingga perlahan meraba masa depan di dunia kerja yang kejam.

Hubungan yang dulunya disembunyikan karena usia yang masih hijau, kini telah menorehkan jejak bertahun-tahun lamanya. Namun, di balik megahnya waktu yang berjalan, ada satu karang tajam yang tak pernah bergeser sejauh apapun ia melangkah dalam pelukan malam.

Sasa tetaplah seorang bayangan, tak pernah sekalipun digandeng Umar untuk melangkah melewati pintu rumahnya, diperkenalkan secara resmi sebagai wanita pilihan hati. Malam itu, di bawah temaram lampu kota yang menjadi saksi bisu kepedihan, pertahanan Sasa runtuh sudah, meleleh bersama tetes air mata.

“Mar, kita ini sebenarnya mau ke mana?” “Kok tiba-tiba nanya begitu?” “Karena kita sudah bukan anak SMA. Kita sudah lama banget.” “Aku sayang kamu.” “Aku gak sedang bertanya kamu sayang atau enggak.” “Lalu?” “Kapan kamu kenalkan aku ke orang tuamu?” “Nanti kalau waktunya pas.” “Nanti lagi?” “Sa…” “Aku cuma ingin tahu apakah aku benar-benar ada dalam rencana hidupmu.”

BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (1): Menagih Janji yang Tak Pernah Tiba


Mini kidi--

Meski Umar selalu menjanjikan fajar perubahan, janji itu hanyalah fatamorgana. Ketika jarak memisahkan mereka karena karier, hubungan itu kian sekarat. “Aku cuma butuh kepastian, Mar.” “Aku lagi bangun karier.” “Aku juga.” “Terus kenapa harus buru-buru?” “Mar, aku menunggu dari SMA.” “Aku gak minta menikah besok. Aku cuma ingin tahu… aku ini sedang menunggu masa depan atau menunggu sesuatu yang sebenarnya gak pernah kamu rencanakan?” “Jangan bikin semuanya rumit.”

Kalimat itu bagai belati bermata dua yang merobek pertahanan terakhir Sasa; air matanya tumpah ruah membasahi pipi, menghapus sisa-sisa bedak di wajahnya. Bertahun-tahun lamanya ia bersabar dalam sunyi yang panjang. Hari keramat itu ternyata hanyalah sebuah fatamorgana di padang pasir yang tandus.

Kisah cinta mereka akhirnya menemui titik nadir perpisahan yang menyakitkan. Bukan karena restu orang tua, melainkan karena Umar tak pernah bernyali membawa Sasa berlabuh ke dermaga keluarganya. 

“Mar, selama ini kamu benar-benar cinta aku?” “Cinta.” “Lalu kenapa rasanya cuma aku yang menunggu?” “Mungkin aku salah.” “Salah apa?” “Aku kira kalau dua orang saling mencintai dan punya keyakinan yang sama, jalan kita akan lebih mudah.” “Ternyata yang paling sulit bukan perbedaan.” “Lalu?” “Membuat seseorang berani memperjuangkan kita.”

BACA JUGA:Nasib Cinta Seorang TKW (4): Akhir Perjalanan Hidup Penuh Luka Seorang TKW


Gempur Rokok Illegal--

Sambungan telepon pun terputus, mengakhiri istana cinta masa remaja mereka. Waktu berlalu, Umar kembali menemukan cinta pada seorang wanita bernama Bida, seorang gadis berjiwa ceria dari latar belakang keyakinan yang berbeda. Di sinilah takdir bermain dengan ironi yang begitu telak menusuk jantung. Jalinan baru ini membawa dinding pemisah yang jauh lebih tinggi dan terjal.

Bida memeluk keyakinan yang berbeda, terlahir dari darah dan tradisi keluarga Tionghoa yang pekat. Ketika para sahabat karib Umar mendengar desas-desus kedekatan itu, reaksi keras langsung meledak tanpa ampun di hadapannya. 

Sumber:

Berita Terkait