Harlah Kejaksaan RI
iklan ulta memorandum

Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (3): Ketika Cinta Tersandung Beda Keyakinan

Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (3): Ketika Cinta Tersandung Beda Keyakinan

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga beda keyakinan.--

Sejak awal, desau angin sudah membisikkan satu hal kepada Umar bahwa jatuh cinta kepada Bida bukanlah jalan setapak yang ditaburi bunga mawar tanpa duri. Kali ini, cinta datang membawa beban seberat timah: Bida adalah penganut Hindu dari darah keturunan Tionghoa yang kental, sementara Umar dibesarkan dalam tempurung nilai Islam yang pekat.

Kawan-kawan terdekatnya langsung menyemprot saat rahasia itu bocor. “Sama Sasa dulu kalian seiman. Bertahun-tahun pula. Tapi lu bahkan gak pernah berani mengenalkan dia sebagai pacar ke keluarga.” Temannya menatap tajam, menghujam ulu hati. “Sekarang sama Bida? Beda agama, beda latar belakang keluarga. Lu pikir bakal semudah itu?”

Darah Umar mendidih. “Kenapa semua orang selalu bawa-bawa Sasa?” “Karena kami kenal lu sejak dulu.” Tepukan di bahu itu terasa seperti tamparan. “Gue cuma gak mau dua perempuan akhirnya terluka karena lu lagi-lagi menjalani hubungan tanpa tahu mau dibawa ke mana.”

BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (2): Bertahan Lama Namun Berujung Pahit


Mini kidi--

Umar terempas dalam sunyi. Hubungan mereka berjalan compang-camping, maju mundur bagai ombak di karang. Ketakutan membuat Umar menarik diri, sementara Bida merasa dipermainkan hingga malam itu ia meledak. “Mar, kalau dari awal kamu tahu kita berbeda, kenapa kamu mendekati aku?” “Aku sayang kamu.”

Bida tertawa getir, matanya berkilat basah. “Jangan jawab pakai perasaan kalau masalah kita jauh lebih besar dari perasaan.” “Aku sedang mencari jalan.” “Sampai kapan?” “Aku gak mau kehilangan kamu, Bid.” “Terus?” “Aku juga gak mau memaksamu mengubah siapa dirimu.” Bida menatapnya nanar. “Karena keyakinan bukan baju, Mar. Bukan sesuatu yang bisa diganti hanya supaya hubungan kita lebih mudah.”

Umar mengangguk lemah. Mereka memilih berjarak, bukan karena api cinta padam, melainkan karena sadar dada mereka terlalu sempit menampung badai. Namun, di tengah sunyinya jarak itu, Bida bergerak diam-diam. Ia membaca kitab, menemui orang-orang berilmu, meraba jembatan asing yang selama ini ditakuti. “Aku sedang belajar tentang agamamu,” bisiknya suatu hari.

BACA JUGA:Cinta yang Tak Pernah Diperjuangkan (1): Menagih Janji yang Tak Pernah Tiba


Gempur Rokok Illegal--

Umar terperanjat. “Karena aku?” “Awalnya mungkin hubungan kita yang membuat aku penasaran.” Bida menarik napas panjang. “Tapi sekarang aku belajar karena aku sendiri ingin tahu.”Rasa ngeri merayap di dada Umar. “Bid, aku senang kamu mau belajar. Tapi jangan pindah agama hanya karena ingin menikah sama aku.”

Bida tersenyum tipis. “Aku juga gak mau.” “Serius?” “Kalau suatu hari aku mengambil keputusan, aku ingin itu karena aku yakin. Bukan karena takut kehilangan kamu.” Waktu bergulir, mencairkan kebekuan. Hingga suatu sore Bida meminta sua, membawa binar teduh di bola matanya. “Aku sudah mengambil keputusan.” “Keputusan apa?” “Aku ingin memeluk Islam.” Umar membeku, lidahnya kelu. “Bid…” “Aku sudah memikirkannya lama.” “Yakin?”

Bida mengangguk mantap, butir bening meluncur di pipinya. “Bukan karena kamu meminta. Kamu bahkan berkali-kali bilang jangan lakukan kalau hanya demi hubungan kita. Aku menemukan keyakinanku melalui perjalanan yang mungkin awalnya dipertemukan oleh cinta.”. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait