BONDOWOSO, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Pak Sutik, dengan sarung yang sudah mulai pudar warnanya, hanya bisa geleng-geleng kepala. Di depan gerbang lapangan, seorang panitia dengan pengeras suara berteriak, "Mohon Bapak-Ibu, jangan lupa nasi bungkusnya dibawa ke dalam!"
"Wah, ini pengajian apa piknik kelas?" celetuk Pak Sutik pada temannya.
BACA JUGA:Sinau Karo Mlaku, Kisah Serka Jianto, Prajurit Kodim Jember Mengabdi Lewat Mimbar Dakwah
Mini Kidi Wipes.--
Konon, sang tokoh yang dipanggil 'Ulama' itu punya aura yang katanya bikin dosa luntur seketika. Tapi rupanya, selain dosa yang luntur, dompet jamaah pun harus ikut luntur demi mendukung kemeriahannya. Syaratnya unik: jamaah bawa bekal nasi sendiri. Logikanya, kalau mau kenyang, usaha sendiri. Kalau mau masuk surga, ya harus modal isi piring sendiri.
Di kursi VVIP, suasananya persis seperti pertemuan elite. Para tamu kehormatan berdatangan dengan mobil-mobil mewah yang kilap bodinya memantulkan cahaya lampu panggung. Mereka turun dengan setelan baju yang tampak mahal, sepatu yang disemir mengilap, dan aroma parfum kelas atas yang menyeruak, seolah hendak melawan aroma keringat ribuan orang di lapangan. Di sana, sang Ulama dan para pejabat saling lempar senyum—senyum yang kalau difoto, komposisinya pas sekali untuk bahan pamer di media sosial agar tetap terlihat eksklusif namun merakyat.
Amplop-amplop putih silih berganti berpindah tangan, mendarat manis di saku sang Ulama. Katanya, itu "tanda bakti" dan "dana dakwah".
Padahal, kalau amplop itu ditaruh di atas timbangan, beratnya mungkin setara dengan beban hidup warga yang duduk di barisan belakang—yang sedang sibuk menahan lapar sambil memeluk bekal nasi dari rumah.
Pak Sutik hanya bisa tersenyum kecut. Ia melihat seorang kakek di sampingnya sedang menyuap nasi dingin dengan lauk seadanya. Di atas panggung, sang Ulama sedang bicara soal keutamaan berbagi, sementara di bawah panggung, jamaah berbagi nasi dengan perut sendiri.
BACA JUGA:Kisah Cinta yang Tertinggal di Tanah Rantau (5): Penyesalan di Ujung Sebuah Ambisi
"Siapa yang paling untung, Pak Sutik?" tanya temannya pelan.
"Yang di panggung," jawab Pak Sutik enteng. "Namanya jadi besar, amplopnya jadi tebal. Dia sukses menyulap sholawat menjadi komoditas pasar. Pejabat juga untung, dapat panggung gratis buat merawat popularitas di hadapan massa yang sudah telanjur lapar."
"Terus, siapa yang paling tekor?"
BACA JUGA:Kisah Isma Mufidah, Penyanyi Asal Jepara yang Mengasah Vokal Lewat Musik Religius