Usaha Peternakan Ayam Bertelur Masyarakat di Kelurahan Tulusrejo

Selasa 30-06-2026,18:11 WIB
Editor : Udin

Oleh:

Imillisa Putri, Dendy Hardiansyah, Barzillia Anastasya 

(Sosiologi, FISIP, UMM)

Perkembangan industri kontemporer kini tidak lagi terpaku pada korporasi besar, melainkan merambah sektor peternakan urban yang adaptif di tengah ekspansi kawasan perkotaan. 

Salah satu fenomena riil yang menarik dikaji adalah usaha peternakan ayam petelur jenis kampung dan arab milik Bapak Muhammad Husni (51 tahun) di Jalan Kendalsari Gang V, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Berdiri sejak tahun 2005 yang berawal dari hanya 50 ekor ayam, usaha mandiri tanpa karyawan ini berhasil melakukan ekspansi pemanfaatan lahan pada tahun 2017 hingga kini memiliki populasi sekitar 2.000 ekor ayam dengan produktivitas mencapai 1.000 butir telur per hari.

Secara geografis, letak peternakan ini sangat unik karena berada di tengah permukiman padat penduduk yang berbatasan langsung dengan koridor komersial Jalan Soekarno-Hatta, sebuah pusat ekonomi modern tempat berkumpulnya masyarakat kelas menengah ke atas di Malang. 

BACA JUGA:Dekadesasi Mempertahankan Kuliner Tradisional di Pasar Tawangmangu


Mini Kidi Wipes.--

Posisi strategis ini menciptakan ceruk pasar tersendiri melalui transformasi struktur kerja hulu-hilir berbasis produksi dan pemasaran mandiri. Uniknya, pemasaran telur premium ini sama sekali tidak menggunakan media digital, melainkan sepenuhnya bertumpu pada modal sosial, kepercayaan. Dalam sosiologi ekonomi, fenomena ini menunjukkan kuatnya konsep keterlekatan sosial dalam bisnis.

Transformasi usaha tradisional menuju modern ini tidak hanya mengubah pola kerja, tetapi juga memicu spesialisasi. Secara teoretis, dinamika ini merefleksikan pembagian kerja yang kompleks, rasionalisasi sistematis berbasis efisiensi demi keuntungan ekonomi, hingga terbentuknya ikatan sosial antara komponen masyarakat dan komponen produksi. Meskipun memiliki risiko sosial-lingkungan seperti polusi bau jika tidak dikelola dengan baik, bisnis ini memiliki prospek cerah karena produk telur merupakan sumber gizi protein hewani yang murah dan terus dicari masyarakat perkotaan.

BACA JUGA:Obat Bukan Barang Biasa: Ketika Kemudahan Akses Bertemu Kompleksitas Terapi


Gempur Rokok Illegal--

Dari aspek finansial, komoditas ayam arab ini sangat diminati karena karakteristik produknya menyerupai ayam kampung asli dengan keunggulan kuning telur yang pekat berkat manajemen pakan berkualitas tinggi. Dengan estimasi omzet yang sangat menjanjikan mencapai Rp90.000.000 per bulan, usaha ini terbukti memiliki kelayakan finansial yang berada jauh di atas biaya operasionalnya. 

Walaupun turun naiknya harga pakan dan ketidakpastian cuaca tetap menjadi tantangan nyata, keberlanjutan industri mikro ini akan sangat bergantung pada efisiensi biaya produksi, konsistensi kualitas telur, serta ketahanan manajemen pelanggan dalam menghadapi dinamika pasar perkotaan yang berubah-ubah.

Kategori :