Waspada Hantavirus, Dosen ITS Ingatkan Bahaya Kotoran Tikus

Selasa 12-05-2026,14:04 WIB
Reporter : Lailatul Nur Aini
Editor : Fatkhul Aziz

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Kemunculan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu kekhawatiran global setelah sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut. Kapal yang berlayar dari Argentina itu mencatat tujuh kasus dengan kondisi beragam, mulai gejala ringan hingga meninggal dunia akibat infeksi virus tersebut per 4 Mei 2026 waktu setempat.

Di tengah ramainya kasus tersebut, Indonesia ternyata bukan wilayah yang asing dengan hantavirus. Sejak 2024, tercatat sebanyak 23 kasus infeksi hantavirus pada manusia di Tanah Air. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit zoonosis masih perlu diwaspadai, terutama di kawasan permukiman padat dengan sanitasi yang kurang baik.

BACA JUGA:DPRD Jatim Minta Pemda Perkuat Kewaspadaan Penyebaran Hantavirus


Mini Kidi Wipes.--

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dr Zulistian Nurul Hidayati SpPD menjelaskan bahwa hantavirus memiliki pola penularan yang berbeda dibanding penyakit menular lain seperti COVID-19.

"Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel pada kotoran tikus dan juga kontak langsung dengan hewan pengerat," kata dr Zulistian, pada Selasa, 12 Mei 2026.

BACA JUGA:Waspada Hantavirus, BBKK Surabaya Perketat Pengawasan di Bandara dan Pelabuhan

Ia menerangkan, gejala awal hantavirus kerap sulit dikenali karena menyerupai flu biasa. Penderita umumnya mengalami batuk, demam, nyeri otot, hingga pilek. Namun kondisi dapat memburuk secara cepat apabila pasien mulai mengalami gangguan pernapasan akut.

"Oleh karena itu, tidak bisa hanya diagnosis dari gejala klinis, perlu adanya pemeriksaan diagnostik penunjang dengan pemeriksaan di lab," terang Zulistian.

Menurutnya, ada dua komplikasi serius yang perlu diwaspadai akibat infeksi hantavirus. Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan dapat menyebabkan gagal napas akut. Kedua yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu demam berdarah yang disertai gangguan ginjal akut.

BACA JUGA:Dugaan Klaster Hantavirus Ditemukan di Kapal Pesiar, Pakar Unair Ingatkan Ancaman Zoonosis Modern


Gempur Rokok Ilegal. Ini Ciri-ciri rokok Ilegal.--

Hingga kini, diketahui terdapat lebih dari 40 varian hantavirus di dunia dan sekitar 20 di antaranya bersifat patogen atau dapat menular ke manusia. Risiko penyebaran dinilai lebih tinggi di lingkungan dengan populasi tikus yang tinggi dan sanitasi yang buruk.

Meski demikian, Zulistian menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan karena karakter penyebaran hantavirus tidak semasif COVID-19. Upaya pencegahan sederhana dinilai cukup efektif untuk menekan risiko penularan.

"Beberapa langkah perlindungan dapat dengan menggunakan masker dan sarung tangan agar terhindar dari kontak langsung dengan kotoran tikus," pungkasnya.(Ain)

Kategori :