Kenapa Dunia Tidak Menggunakan Satu Bahasa yang Sama? Ini Alasannya

Senin 20-04-2026,13:58 WIB
Reporter : MG/Adiybah Fawziyyah
Editor : Fatkhul Aziz

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Setiap hari, manusia sebagai makhluk sosial terus berkomunikasi menggunakan bahasa. Tapi, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa manusia bisa menggunakan bahasa yang berbeda-beda?

Berdasarkan data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa periode 2019–2024, Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia setelah Papua Nugini. Secara global, Indonesia menyumbang sekitar 10% dari total bahasa di dunia.

BACA JUGA:Satgas TMMD Belajar Bahasa Madura dari Warga di Teras Masjid Mandala


Mini Kidi Wipes.--

Banyaknya bahasa, baik di dalam negeri maupun luar negeri, sering kali membuat kita bertanya: mengapa dunia tidak menggunakan satu bahasa saja?

Sekilas, ide ini terdengar praktis dan mempermudah komunikasi, diplomasi, hingga perdagangan. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks. Berikut alasannya:

BACA JUGA:Ramadan Inklusif, Mahasiswa Tuli Unesa Ikuti Ngaji Bahasa Isyarat di Surabaya

1. Bahasa sebagai Identitas dan Budaya

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga wadah sejarah, tradisi, dan cara pandang suatu bangsa terhadap dunia. Misalnya, istilah “gotong royong” di Indonesia yang sulit diterjemahkan secara utuh ke bahasa lain.

Jika sebuah bahasa hilang, maka sebagian budaya yang terkandung di dalamnya juga ikut memudar. Selain itu, bahasa ibu membuat seseorang merasa lebih terhubung dengan identitasnya. Menghapus bahasa berarti menghapus sebagian identitas kolektif suatu kelompok.

BACA JUGA:Lionel Messi Akui Menyesal Tak Belajar Bahasa Inggris sejak Kecil, Kini Tekankan Pentingnya Pendidikan

2. Evolusi Alami dan Isolasi Geografis

Secara historis, manusia tersebar di berbagai wilayah dunia. Bahkan jika pada awalnya manusia menggunakan satu bahasa, isolasi geografis membuat bahasa tersebut berkembang secara berbeda di tiap daerah.

Perbedaan ini menghasilkan dialek, yang lama-kelamaan berkembang menjadi bahasa baru. Misalnya, masyarakat di wilayah kutub memiliki banyak istilah untuk “salju”, sementara masyarakat di daerah tropis memiliki lebih banyak istilah untuk “hujan”.

BACA JUGA:Kisah Putri Aura S, Jadikan Dunia Modelling sebagai Bahasa Komunikasi Non-Verbal

Kategori :