Bulan berpikir semuanya akan selesai setelah kebenaran terungkap.
Ia mengira, setelah ia tahu, setelah ia bertanya, setelah Bintang mengaku perempuan itu akan mundur dengan sendirinya. Seperti dalam cerita-cerita yang sering ia dengar: yang salah akan pergi, yang sah akan tetap tinggal.
Ternyata tidak semua cerita berjalan seperti itu.
Beberapa hari setelah kejadian itu, ponsel Bulan berdering. Nomor tidak dikenal.
Awalnya ia ragu mengangkat. Namun sesuatu dalam dirinya mendorong untuk menjawab.
“Halo?”
Di seberang, suara perempuan terdengar tenang.
“Saya Alya.”
Nama itu kini tidak lagi asing.
Bulan tidak menjawab.
“Aku cuma mau bicara baik-baik,” lanjut suara itu. “Aku tidak ingin semuanya jadi kacau.”
Bulan tersenyum tipis. “Semuanya sudah kacau.”
Sunyi beberapa detik.
“Aku tahu kamu istrinya,” kata Alya. “Tapi aku juga tidak datang tiba-tiba.”
Kalimat itu seperti menantang.
“Maksudnya?” tanya Bulan.
“Aku sudah ada sebelum kamu tahu. Dan Bintang tidak pernah benar-benar pergi.”
Bulan menutup matanya sebentar.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar sakit ia merasa posisinya sedang digeser.
“Jadi kamu mau apa?” tanyanya pelan.
“Aku tidak mau mundur,” jawab Alya tanpa ragu. “Aku juga punya perasaan.”
Kejujuran itu terasa kejam.
Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada permintaan maaf. Hanya pernyataan bahwa ia tidak akan pergi.
Setelah telepon ditutup, Bulan duduk lama tanpa bergerak.
Malamnya, ketika Bintang pulang, Bulan langsung berkata, “Dia meneleponku.”
Bintang membeku. “Siapa?”
“Alya.”
Sunyi.
“Dia bilang dia tidak akan mundur.”
Bintang mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Aku akan selesaikan ini.”
“Bagaimana?” tanya Bulan. “Dengan janji yang sama seperti kemarin?”
Bintang tidak punya jawaban.
Karena untuk pertama kalinya, situasinya bukan lagi tentang kesalahan yang bisa ditutup dengan permintaan maaf.
Ini tentang dua perempuan yang berdiri di dua sisi dan satu laki-laki yang tidak pernah benar-benar memilih.
“Aku tidak mau bersaing,” kata Bulan pelan. “Aku tidak pernah mendaftar untuk itu.”
Bintang menatapnya, dan di situlah ia menyadari sesuatu yang selama ini ia hindari:
Selama perempuan itu tidak mundur…
dan selama ia tidak tegas memilih…
maka pengkhianatan itu tidak pernah benar-benar berhenti.
Dan di antara mereka bertiga, yang paling lelah bukan yang berjuang.
Melainkan yang terus dipaksa bertahan di posisi yang tidak pernah ia pilih. (atp/fer/bersambung)