Rahasia yang Tersimpan setelah Sebelas Tahun (2): Ketika Kejujuran Datang Terlambat
Ilustrasi Bulan menangis di malam hari di samping sisi suaminya yang tidur nyenyak..--
Air mata Bulan akhirnya jatuh. Bukan karena marah. Bukan karena benci. Melainkan karena bingung. Sangat bingung. Ia menatap laki-laki yang selama sebelas tahun tidur di sampingnya.
Laki-laki yang menjadi ayah dari anak-anaknya. Laki-laki yang ia cintai. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak benar-benar mengenalnya. Sebelum masuk ke kamar, Bulan bertanya dengan suara lirih. “Kalau waktu bisa diulang. Apakah Mas tetap akan menikah denganku?”tanya Bulan
Bintang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lama sekali. Kemudian menjawab pelan. “Aku gak tahu.”jawabnya.
BACA JUGA:Rahasia yang Tersimpan setelah Sebelas Tahun (1); Bintang Dikenal Ayah yang Bertanggung Jawab

Mini Kidi Wipes.--
Dan malam itu, rumah mereka berubah menjadi sangat sunyi. Bulan tidak lagi bertanya. Bintang juga tidak lagi menjelaskan. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai suatu pagi, semuanya berubah. Ponsel Bulan berdering berkali-kali. Pesan masuk silih berganti.
Awalnya Bulan tidak mengerti. Namun ketika ia membuka salah satu kiriman itu, tubuhnya langsung membeku. Sebuah foto. Lalu video. Dan di dalam video itu ada Bintang. Wajahnya terlihat jelas. Bersama sekelompok orang dalam sebuah pesta tertutup yang sedang menjadi perbincangan publik. Video itu menyebar sangat cepat.
BACA JUGA:Kasus Suami Bunuh Bidan di Besuki: Selain Cemburu, Pelaku Diduga Kuat Konsumsi Sabu

Gempur Rokok Illegal--
Bulan menjatuhkan ponselnya ke sofa. Tangannya gemetar. Napasnya terasa berat. Bukan hanya karena apa yang dilihatnya. Tetapi karena kini seluruh dunia juga melihatnya. Siang itu Bintang pulang lebih awal. Wajahnya pucat.
Matanya merah. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka bersama, Bulan melihat laki-laki itu benar-benar kehilangan arah. “Aku sudah dipecat.”Kalimat pertama yang keluar dari mulut Bintang membuat ruangan terasa semakin dingin.
Bulan menatapnya. Tidak ada amarah. Tidak ada teriakan. Hanya kelelahan yang sangat dalam. Bintang duduk perlahan di kursi ruang makan. Kursi yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mereka berbagi cerita. “Aku gak pernah mau semua ini terjadi.” Suara Bintang hampir tidak terdengar. “Sebelas tahun, Mas.”Bulan tersenyum pahit. “Sebelas tahun aku hidup bersamamu.”
Air mata Bulan mulai jatuh. “Aku tahu.”Bintang menunduk. “Tapi ternyata aku gak pernah benar-benar tahu siapa suamiku.”ujar Bulan, kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada teriakan. Karena itu adalah kebenaran. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:










