“Bumbunya kurang halus.”
“Kalau di rumah, kamu masak seperti ini juga?”
Bulan menahan diri. Ia mengangguk, memperbaiki tanpa membalas.
Namun ketika kesalahan kecil terus dikomentari, sesuatu mulai terasa berat.
Siang itu, saat semua orang makan bersama, ibunya Bintang berkata sambil tertawa kecil, “Bintang dulu makannya lahap, sekarang kayaknya kurang cocok sama masakan rumah ya?”
Beberapa orang ikut tertawa.
Bulan tersenyum, tapi tangannya berhenti sebentar.
Malamnya, di kamar, akhirnya semua yang ditahan keluar.
“Mas, aku capek,” katanya pelan.
Bintang yang sedang bermain ponsel menoleh. “Capek apa?”
“Aku merasa seperti selalu salah.”
“Ah, kamu terlalu baper. Ibu memang begitu.”
Kalimat itu terasa seperti pengkhianatan kecil.
“Bukan soal Ibumu seperti apa,” kata Bulan. “Tapi soal kamu tidak pernah ada di pihakku.”
Bintang terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa kehadirannya tidak cukup hanya secara fisik. Ia harus memilih diam atau melindungi.