Kota Hidup di Siang Hari tapi Sendiri saat Malam

Sabtu 28-03-2026,08:05 WIB
Reporter : Aris Setyoadji
Editor : Aris Setyoadji

Surabaya sedang berlari kencang sebagai kota metropolitan, ekonomi tumbuh, investasi masuk, proyek infrastruktur berdiri di mana-mana.

Namun di balik laju itu, ada satu ironi yang makin nyata yakni generasi muda yang bekerja di kota ini, justru semakin sulit tinggal di dalamnya.


Mini Kidi Wipes.--

Memiliki rumah di Surabaya kini bukan lagi target realistis bagi banyak anak muda, melainkan mimpi mahal yang terus menjauh.

Harga properti melonjak, sementara gaji tidak bergerak secepat itu.

Ketimpangan ini bukan sekadar angka di laporan ekonomi karena ini realitas yang dirasakan langsung oleh ribuan pekerja muda setiap hari.

BACA JUGA:Kampung Wisata Ruang Pemberdayaan Ekonomi

Di fase awal karier, pilihan yang tersedia terasa seperti jebakan.

Mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berarti siap dengan beban puluhan tahun, uang muka tinggi, dan bunga yang tidak ringan.

Menunda membeli rumah pun bukan solusi ideal, karena harga terus naik lebih cepat daripada kemampuan menabung.

Akhirnya, banyak yang mengambil jalan kompromi yakni tinggal di kota tetangga seperti Sidoarjo dan Gresik, hingga kawasan yang semakin jauh dari pusat kota menjadi alternatif.

BACA JUGA:Kota Besar Pun Rentan Tenggelam

Murah, iya, tapi ada harga lain yang harus dibayar yakni waktu.

Perjalanan pulang-pergi berjam-jam menjadi rutinitas, waktu produktif tergerus, energi terkuras, dan kualitas hidup turun perlahan.

Kota yang seharusnya mendekatkan peluang justru menjauhkan kenyamanan hidup.

Dampaknya tidak berhenti di situ, karena krisis hunian ini merembet ke keputusan hidup yang lebih besar.


Gempur Rokok Ilegal -----

Menikah ditunda, rencana membangun keluarga diulur, bahkan sebagian mulai mempertanyakan, apakah Surabaya masih layak jadi tempat menetap?

Masalah ini bukan kebetulan, ada pola yang jelas, pertama, properti di Surabaya semakin didorong sebagai instrumen investasi, bukan kebutuhan dasar.

Selama rumah lebih menguntungkan untuk disimpan atau dijual kembali, harga akan terus naik dan pembeli pertama akan selalu kalah cepat.

BACA JUGA:UMKM Jatim di Era Digital, Tanpa Pendampingan akan Tertinggal

Kedua, pasokan hunian terjangkau di dalam kota sangat terbatas.

Proyek perumahan lebih banyak menyasar kelas menengah atas.

Kategori :