BACA JUGA:Anak-anak Dibatasi Bermedsos, Orang Dewasa Dibiarkan Ribut
BACA JUGA:Cinta Ditolak Kapakpun Bertindak
Kebijakan ini adalah sebuah pengakuan jujur: bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
WFH kini bukan lagi tentang jarak, melainkan tentang keberpihakan pada kesejahteraan jiwa dan raga. Ia memberi kita ruang untuk tetap berdaya tanpa harus terluka oleh beban biaya hidup yang kian mencekik leher.
BACA JUGA:MBG Gratis, Gizi Minim dan Janji Manis
BACA JUGA:Kota Besar Pun Rentan Tenggelam
BACA JUGA:Wahyu dan Mesiu
Penetapkan WFH di hari Rabu (puncak dari hiruk-pikuk aktivitas mingguan) adalah sebuah langkah "jeda" yang cerdas sekaligus manusiawi.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawnasa dengan tegas mengingatkan bahwa rumah hanyalah perpindahan ruang, bukan penghentian tanggung jawab.
Di balik pintu-pintu rumah yang tertutup, pelayanan publik harus tetap menyala 100 persen. Tidak boleh ada denyut nadi birokrasi yang melemah.
BACA JUGA:Rindu di Jalur Mudik
BACA JUGA:Sidang Sempro dan Sidang Hati
BACA JUGA:Padel: Gaya Hidup dan Peluang Bisnis Baru
Masyarakat tidak boleh menemukan pintu layanan yang terkunci atau suara yang tak terjawab hanya karena sang abdi negara sedang bekerja dari balik layar monitor ruang tamunya.
Ini adalah tentang produktivitas yang berpindah tempat, bukan libur yang dipercepat.
Rabu sengaja dipilih sebagai titik tumpu, sebuah jeda cerdas di jantung minggu agar kita tidak terjebak dalam godaan long weekend yang tidak produktif.