JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pendopo Wahyawibawagraha, Rabu, 25 Maret 2026. Tanpa sekat formalitas open house, Pemerintah Kabupaten Jember memilih merayakan Idulfitri melalui tradisi Kupatan yang kental dengan nilai spiritual dan kearifan lokal.
Mini Kidi Wipes.--
Acara yang dihadiri lengkap oleh jajaran Forkopimda Plus ini dipimpin langsung oleh Bupati Jember, Gus Fawait. Tampak hadir dalam satu meja, Ketua DPRD Jember Achmad Halim, Kapolres Jember AKBP Bobby A. Condroputra, Danbrigif 9/DY/2 Kostrad Kolonel Inf Roliyanto, Dandim 0824/Jember Letkol Inf. Rifqi Muhammad Syuhada, hingga Kalapas Jember RM Kristyo Nugroho.
BACA JUGA:Jaga Kenyamanan Pemudik, Gus Fawait Pimpin Apel Kesiagaan Lebaran di Alun-alun Jember
Dalam sapaannya yang hangat, Gus Fawait menjelaskan bahwa ditiadakannya open house tahun ini merupakan bentuk kepatuhan terhadap arahan pemerintah pusat. Namun, menurutnya, makna Lebaran tidak luntur sedikit pun karena digantikan dengan tradisi Kupatan yang lebih "membumi".
“Puasa Ramadan selama 30 hari adalah cara kita menyucikan diri di hadapan Allah. Namun, urusan antarmanusia hanya bisa tuntas dengan saling memaafkan. Itulah inti dari Kupatan ini; sebuah ruang untuk kita saling melepaskan khilaf,” tutur Gus Fawait dengan nada reflektif.
Gempur Rokok Ilegal -----
Gus Fawait juga mengajak masyarakat untuk bangga pada warisan ulama Nusantara. Budaya seperti halal bihalal, silaturahmi, hingga "ngelencer" adalah kekayaan khas Indonesia yang menurutnya menjadi perekat harmoni sosial yang tak dimiliki bangsa lain.
“Menjaga tradisi ini bukan sekadar urusan budaya, tapi cara kita merawat persaudaraan. Di momentum hati yang bersih ini, mari kita saling mendoakan, termasuk mendoakan para leluhur kita yang telah mendahului,” tambahnya.
Senada dengan semangat kebersamaan tersebut, Kalapas Kelas IIA Jember, RM Kristyo Nugroho, memandang kegiatan ini sebagai jembatan silaturahmi yang strategis antarinstansi.
"Acara ini adalah refleksi kebersamaan. Sinergi antara Lapas dan Pemkab Jember bukan sekadar urusan kerja, tapi tentang membangun hubungan kemanusiaan yang harmonis demi stabilitas keamanan Jember yang kondusif," ungkap Kristyo.
Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama. Pemerintah Kabupaten Jember berharap, melalui filosofi ketupat yang melambangkan mengaku salah (ngaku lepat), nilai gotong royong dan saling menghormati akan terus tumbuh di hati masyarakat Jember. (edy)