Kita sedang berada di hari-hari ganjil. Sebuah interval waktu yang dalam tradisi Islam disebut sebagai saat-saat penantian. Lailatul Qadar. Sebuah malam yang konon "lebih baik dari seribu bulan," di mana sunyi bukan berarti kosong, dan doa adalah satu-satunya jembatan antara yang fana dan yang abadi.
Namun, tahun ini, kekhusyukan itu terasa robek. Dari arah Barat Daya, kabar buruk terbang lebih cepat dari burung ababil. Di sana, di perairan yang sempit dan tegang itu, Selat Hormuz tak lagi sekadar nama dalam peta geopolitik. Ia telah menjadi leher yang tercekik.
BACA JUGA:Wahyu dan Mesiu
Mini Kidi Wipes.--
Amerika Serikat, Israel, dan Iran—tiga nama yang berkelindan dalam dendam lama—kini benar-benar berhadap-hadapan dalam palagan yang tak kunjung usai. Ketika rudal-rudal melintas di langit Timur Tengah, yang jatuh bukan hanya puing, melainkan juga tatanan ekonomi kita yang rapuh.
Kita tahu ceritanya: Selat Hormuz tersumbat. Dua puluh persen pasokan minyak dunia terhenti di sana, seperti darah yang membeku di pembuluh nadi. Harga minyak melonjak melampaui 100 dolar per barel, dan seketika, dapur-dapur di pinggiran Surabaya atau pelosok Jawa merasakan panasnya. Krisis energi bukan lagi istilah di kolom opini surat kabar; ia menjelma menjadi angka-angka yang membengkak di tagihan listrik dan harga BBM yang tak masuk akal.
BACA JUGA:Niaga Nyawa
Lalu datanglah hantu itu: kelaparan. Di dunia yang saling terhubung ini, perang di satu kutub adalah piring kosong di kutub yang lain. Biaya logistik meledak, distribusi pangan terganggu, dan tiba-tiba saja, zakat fitrah yang kita siapkan terasa begitu kecil di hadapan raksasa inflasi yang rakus.
Apa yang harus kita lakukan saat "malam kemuliaan" ini justru dibayangi oleh kegelapan perang?
Mungkin kita perlu belajar dari esensi puasa itu sendiri: menahan diri. Di tengah krisis ekonomi dan energi yang mengepung, menahan diri bukan lagi sekadar ritual agama, melainkan strategi bertahan hidup. Kita dipaksa untuk kembali ke yang substansial, meninggalkan yang artifisial.
BACA JUGA:Puasa dan Seni Merasa Cukup
Pemerintah mungkin bicara tentang swasembada pangan atau energi alternatif—dan itu perlu. Namun, di tingkat manusiawi, kita butuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebijakan teknokratis. Kita butuh solidaritas yang tidak bakhil.
Jika Lailatul Qadar adalah momen turunnya wahyu yang mencerahkan, maka di masa sulit ini, "wahyu" itu mungkin adalah kesadaran bahwa kita tidak bisa selamat sendirian. Krisis global ini jadi cermin buram yang memilukan bahwa bom yang jatuh di Teheran atau Tel Aviv memiliki gema yang sanggup merubuhkan meja makan kita di sini.
Gempur Rokok Ilegal.--
Saat ini, di sisa-sisa hari ganjil ini, barangkali yang paling berharga bukan hanya doa agar perang berhenti, tapi juga keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang makin mekanis dan kejam. Kita harus berbagi beban, menghemat apa yang bisa dihemat, dan memastikan bahwa tetangga kita tidak berbuka puasa dengan rasa lapar yang tak berujung.