Anak-anak Dibatasi Bermedsos, Orang Dewasa Dibiarkan Ribut

Rabu 11-03-2026,07:07 WIB
Reporter : Ferry Ardi Setiawan
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Namun ada satu hal kecil yang sering terlewat dalam diskusi ini.

BACA JUGA:Polisi Mau Pulang ke Mana

Sebagian besar kegaduhan di internet sebenarnya bukan datang dari anak-anak.

Melainkan dari orang dewasa.

BACA JUGA:Burung Besi Itu Kalah di Bulusaraung

Mereka yang secara usia seharusnya sudah lulus dari pelajaran mengendalikan emosi. Mereka yang seharusnya sudah terbiasa memeriksa informasi sebelum menekan tombol “bagikan”.

Namun entah mengapa, di media sosial kedewasaan sering menjadi barang langka.

BACA JUGA:Rompi Oranye Itu Akhirnya Dilipat

Di sana seseorang bisa tiba-tiba menjadi pakar segala hal. Pagi membaca satu utas, siang sudah merasa paling memahami persoalan negara.

Di sana juga seseorang bisa sangat marah terhadap sesuatu yang baru saja ia baca lima menit sebelumnya.

Tanpa mengecek sumber. Tanpa memastikan konteks.

BACA JUGA:Ancaman Superflu di Tengah Bayang-Bayang Covid-19

Cukup dengan keyakinan bahwa ia benar.

Kadang yang diperdebatkan pun bukan persoalan besar. Bisa soal selera musik. Soal pilihan makanan. Soal siapa yang paling nasionalis. Bahkan soal hal-hal yang sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:Alam Berduka, Bandung Membara

Tetapi perdebatan itu bisa berlangsung panjang.

Tags :
Kategori :

Terkait