“Yang penting adil,” tambah yang lain.
Dari sisi keluarga Bulan, nada bicara jauh lebih tajam.
“Adil itu bukan cuma soal uang,” kata kakak Bulan. “Adil itu soal hati.”
Bintang mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya ia anggap sederhana ternyata jauh lebih rumit. Poligami mungkin sah bagi sebagian orang, tapi dalam kenyataan rumah tangga, ia jarang hanya melibatkan dua orang.
Ia menyeret keluarga, harapan, ego, bahkan sejarah panjang yang tak pernah benar-benar selesai.
Suatu malam setelah semua keributan itu, Bulan berkata pada Bintang dengan suara yang sangat tenang, “Aku ingin kamu mengambil keputusan bukan karena tekanan siapa pun. Bukan karena ibumu, bukan karena keluargaku.”
“Lalu karena apa?” tanya Bintang.
“Karena kamu benar-benar tahu apa yang akan kamu korbankan.”
Bintang menatap istrinya lama. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa keinginannya menikah lagi bukan hanya tentang menambah satu orang dalam hidupnya.
Gempur Rokok Illegal--
Ia tentang mengubah seluruh keseimbangan yang sudah ada.
Dan ketika keluarga mulai ikut campur, satu hal menjadi jelas: keputusan itu tidak lagi hanya milik Bintang dan Bulan.