Niaga Nyawa

Jumat 27-02-2026,08:00 WIB
Reporter : Fatkhul Aziz
Editor : Fatkhul Aziz

Di Palembang, sebuah angka melayang di udara: 52 juta rupiah. Itu bukan harga sebuah sepeda motor bekas, bukan pula harga perhiasan yang berkilau di etalase toko. Itu adalah harga seorang bayi perempuan berusia tiga hari.

HA dan S, orang tua bayi itu, berdiri di hadapan polisi dengan narasi yang sudah terlalu akrab di telinga kita: "faktor ekonomi." Anak keempat, sekolah yang tak terbayar, dan beban hidup yang seolah tak kunjung usai. Dalam ruang permenungan, kita tentu bertanya: di titik mana manusia kehilangan kesadaran atas darah dagingnya sendiri hingga ia menjadi komoditas di pasar digital?

BACA JUGA:Puasa dan Seni Merasa Cukup


Mini Kidi Wipes.--

Kita sedang berada di ambang Ramadan, bulan yang menjanjikan kesucian dan empati. Namun, kabar dari Bareskrim Polri justru membawa aroma lain. Tujuh bayi diselamatkan dari jaringan perdagangan orang yang membentang dari Sumatera hingga Bali. Ada dua belas tersangka, sebuah jaringan yang rapi, yang memanfaatkan celah kemiskinan dengan modus adopsi ilegal di media sosial.

Ada semacam ironi yang getir. Menjelang Ramadan dan Lebaran, kebutuhan pokok melonjak, dan di banyak keluarga, tekanan ekonomi menjadi musuh yang tak kasat mata. Namun, ketika kemiskinan bertemu dengan putus asa, yang muncul bukanlah solidaritas, melainkan komodifikasi manusia.

BACA JUGA:TNI dan Labirin Gaza

Negara, melalui Polri, hadir dengan penegakan hukum. Itu perlu. Namun, apakah penangkapan demi penangkapan akan menghentikan alur niaga nyawa ini?

Kemiskinan memang pelik, dan sistem ekonomi kita seringkali terlalu dingin bagi mereka yang berada di kelas bawah. Ketika sekolah menjadi beban yang tak terjangkau dan biaya hidup mencekik leher, rasa kasih sayang orang tua—yang secara biologis seharusnya menjadi benteng terakhir—bisa retak.

Namun, tetap saja, menjual anak adalah noda yang sulit dibasuh. Ia menunjukkan bahwa ada sesuatu yang patah dalam struktur sosial kita. Bahwa di negeri yang membanggakan angka-angka pertumbuhan ekonomi, masih ada orang tua yang merasa bahwa melepaskan anak adalah satu-satunya cara untuk sekadar "menyambung hidup" bagi anak-anak yang lain.


Gempur Rokok Illegal--

Ramadan akan datang, dan seperti biasa, kita akan berbicara tentang zakat, infak, dan sedekah. Kita akan bicara tentang berbagi kepada sesama. Tapi mungkin, sebelum kita sibuk menata meja makan untuk berbuka atau mempersiapkan baju baru untuk Lebaran, ada baiknya kita menoleh sedikit ke sudut-sudut gelap di mana "harga" manusia merosot hingga 52 juta rupiah.

Sebab, jika negara hanya hadir sebagai polisi yang memborgol tangan, tetapi gagal merawat jaring pengaman sosial yang bisa mencegah ibu mana pun merasa harus menjual bayinya, maka kita hanya sedang memadamkan api dengan segelas air, sementara hutan di sekitar kita terus terbakar oleh ketimpangan.

Kategori :