Manisnya Gula
ilustrasi melawan pemakaian gula.--
Genderang perang melawan pemakaian gula sebagai pemanis makanan dan minuman terdengar makin kuat. Berbagai negara sudah mulai menerapkan peraturan resmi yang mengatur jumlah gula yang boleh ditambahkan. Tentu saja disertai sanksi pelanggarannya.
Negara tetangga Singapura dan Thailand makin getol menerapkan aturan itu, dengan alasan kuat bahwa telah terjadi peningkatan penyakit metabolik yang kronis, seperti diabetes dan obesitas. Indonesia sebenarnya sudah memulainya, walau dengan kecepatan yang belum terlalu tinggi.
Keadaan ini secara nyata memberikan peluang beredarnya aneka produk minuman manis yang dikemas secara lebih modern, yang pasti digemari anak muda. Harus diakui, pengetahuan orang tentang bahaya kelebihan gula dalam darah masih minim.
Banyak dari mereka sadar gula adalah penyebab kegemukan, namun ternyata sedikit yang tahu bahwa keadaan itu cepat atau lambat erat berkaitan dengan terjadinya gangguan fungsi otak, kelelahan, kemampuan berkonsentrasi, dan keadaan emosi yang tidak stabil.
Kekhawatiran yang belum banyak diwaspadai orang adalah gejala brain fog. Yaitu timbulnya rasa lelah mental, bingung, dan kurangnya kejernihan mental yang merusak kemampuan berpikir, berfokus, dan pengolahan lalu lintas informasi dari dan untuk otak.
BACA JUGA: Berdamai dengan Diabetes

Mini Kidi Wipes.--
Ada banyak penyebab orang menyukai rasa manis, salah satunya adalah sebagai sumber energi. Benar, tubuh akan mengolah karbohidrat, termasuk gula, menjadi panas yang mutlak diperlukan untuk terjaganya stamina, semangat, kekuatan kerja, dan pastinya meningkatkan rasa percaya diri.
Namun, ketika makanan dan minuman manis masuk secara berlebih, maka darah akan kebanjiran gula. Keadaan ini membuat tubuh memerintahkan kelenjar pankreas untuk mengeluarkan hormon insulin lebih banyak agar kadar gula turun kembali.
Naik turunnya kadar gula sangat tidak disukai sistem otak, utamanya karena menyebabkan gangguan pada berbagai proses, yang berpeluang mengganggu kesehatan pembuluh darah, terjadinya radang dan gangguan peran insulin, makin tidak terkendalinya proses penuaan otak, serta gangguan kemampuan otak menyimpan memori.
Minuman Ramah Otak
Jadi, sistem otak lebih menyukai energi yang stabil, dan kondisi itu terjadi ketika kadar gula darah terjaga kestabilannya.
Sulit? Memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa. Ada pilihan cara, seperti mengatur sumber karbohidrat, protein, dan lemak yang berkualitas dalam jumlah secukupnya, menurunkan konsumsi gula secara bertahap, memilih minuman yang tidak terlalu manis, mengonsumsi buah lebih banyak sebagai pengganti makanan manis, memilih minuman tradisional yang cenderung tidak terlalu manis.
BACA JUGA:Gula, Karbo, dan Diabetes
Sumber:










