Kisah Sejuk Liana Wardani, Islam dan Meja Makan Lintas Iman

Senin 23-02-2026,08:00 WIB
Reporter : Alif Bintang
Editor : Ferry Ardi Setiawan

“Agama itu seperti air. Ia harus menyegarkan siapa saja yang ada di sekitarnya. Jika saya menjadi Muslim namun membuat saudara saya jauh, berarti saya belum memahami Islam dengan benar," ungkapnya.

Kepada ketiga anaknya, Liana tidak hanya mewariskan harta, tetapi juga nilai kemanusiaan yang kental. Sedekah telah menjadi napas dalam keluarganya. Ia selalu berpesan bahwa di dalam harta yang mereka miliki, terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.

“Dulu saya mengira kedamaian itu ada pada pencapaian duniawi. Tapi ternyata, damai itu hadir saat sujud terakhir di sepertiga malam,” ucapnya.

BACA JUGA:Merinding Baca Syahadat, Kisah Perjalanan Spiritual Angga Wibisono Jadi Mualaf

Liana pun memiliki harapan tulus di masa senjanya. “Saya ingin menutup usia bukan hanya sebagai orang Tionghoa atau orang Muslim, tapi sebagai hamba yang benar-benar dicintai-Nya karena telah berbuat baik pada sesama manusia, tanpa peduli apa warna kulit atau agamanya,” sambung Liana.

Kini, ia menikmati masa tuanya dengan penuh syukur. Di bawah gema takbir atau di tengah riuhnya kumpul keluarga lintas iman, Liana tetap menjadi oase yang tenang.

Kehidupannya menjadi bukti bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja yang hatinya terbuka. “Islam adalah cinta yang mewujud dalam tindakan,” tuntas Liana. (bin/nov)

Kategori :