Labuhan Terakhir Ismail, Dari Taiwan Menjemput Cahaya Islam di Sidoarjo

Sabtu 21-02-2026,08:00 WIB
Reporter : Lailatul Nur Aini
Editor : Ferry Ardi Setiawan

"Kadang orang masuk Islam cukup di masjid, dan itu sah. Tapi saya ingin yang resmi, ada pendampingan dan sertifikat," ujar pria yang kini berdomisili di Surabaya tersebut.

Kini, meski masih berstatus sebagai warga negara asing, Ismail telah mengantongi KTP orang asing dengan keterangan agama Islam. Baginya, kartu identitas itu bukan sekadar urusan administratif, melainkan simbol legalitas atas keyakinan yang ia perjuangkan.

"Di KTP tertulis Islam. Rasanya seperti pengakuan resmi atas jalan hidup yang saya pilih," ucapnya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, sembari menyunggingkan senyum kecil.

BACA JUGA:Merinding Baca Syahadat, Kisah Perjalanan Spiritual Angga Wibisono Jadi Mualaf

Setelah resmi menjadi muslim, keseharian Ismail kini diisi dengan memperdalam pemahaman agama. Ia rutin membaca Alquran dan mengikuti kajian untuk menerapkan nilai-nilai Islam secara nyata.

Baginya, menjadi mualaf bukanlah akhir dari pencarian, melainkan gerbang awal dari perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketulusan. 

“Saya masih belajar. Setiap hari selalu ada hal baru yang saya pahami tentang Islam," pungkasnya.

Kisah Ismail menjadi bukti nyata bahwa hidayah bisa menyelinap masuk melalui ruang kelas sejarah dan tumpukan buku, hingga akhirnya menemukan cahaya iman yang selama ini dicari. (ain/nov)

Kategori :