“Istri,” jawabnya singkat.
“Angkat aja,” kata Nara.
“Nanti,” jawab Bintang. “Nggak penting.”
Kalimat itu ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang dulu menjadi pusat hidupnya.
Di rumah, Bulan menatap layar yang tak pernah tersambung. Ia tidak marah. Ia hanya mengerti sesuatu yang sederhana tapi menyakitkan: rindu bisa dibiasakan. Dan ketika rindu sudah tidak lagi mengganggu, berarti ada yang berubah.
Beberapa minggu kemudian, saat Bintang akhirnya pulang, ia menemukan suasana yang berbeda. Rumah tetap rapi. Anak tetap ceria. Bulan tetap sopan.
Namun tidak ada lagi tatapan yang dulu menunggu.
Gempur Rokok Illegal--
“Kamu kelihatan beda,” kata Bintang.
Bulan tersenyum tipis. “Aku cuma belajar hidup tanpa bergantung pada jarak.”
Kalimat itu terdengar tenang. Tapi bagi Bintang, itu adalah peringatan.
Karena LDR bukan hanya tentang setia atau tidak. Ia tentang apakah dua orang masih merasa saling memiliki, atau sudah mulai terbiasa sendiri.
Dan di antara dua kota itu, ada satu pertanyaan yang belum terjawab:
Apakah jarak hanya memisahkan tubuh, atau sudah mulai memisahkan hati?