Menyambut Ramadan di Tengah Luka Sosial

Senin 16-02-2026,15:27 WIB
Reporter : Eko Yudiono
Editor : Eko Yudiono

MEMORANDUM.DISWAY.ID-Ramadan sudah dekat. Umat muslim muslim sedunia mulai mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah ini.

Di Indonesia, gaungnya bahkan terasa sejak sebulan terakhir. Layar kaca dipenuhi iklan sirup dan sarung penanda Ramadan segera tiba.

Di tengah gempita menyambut Ramadan ada beberapa persoalan negeri yang belum juga selesai. Utamanya kemiskinan yang berimbas pada Pendidikan dan yang mengiringinya.

Jauh di Nusa Tenggara Timur kabar pilu terdengar. Diduga  malu karena uang sekolah sering telat bocah 10 tahun nekat mengakhiri hidupnya. Sungguh memilukan! Pedih.

Ketua BEM UGM Tiyo Arddianto bahkan menulis surat terbuka kepada UNICEF. Surat berisi kritikan terhadap sistem Pendidikan di Indonesia itu belakangan memicu ancaman kepada yang bersangkutan.

Tiyo bahkan menerima ancaman penculikan. Hem! Persoalan bangsa yang masih belum selesai hingga ke akar rumput ini menjadi tantangan tersendiri bagi presiden Prabowo. 

BACA JUGA:Indah di Spanduk Hampa di Ruang Redaksi


Mini Kidi--

Apalagi, program makan bergizi gratis (MBG) juga menuai pro dan kontra. Juga banyak kejadian negative yang mengiringinya.

Persoalan bangssa memang menjadi tanggung jawab Bersama bukan kepada negara. Nah, di tengah berbagai persoalan yang ada, mudah-mudahan bulan penuh berkah yang sebentar lagi tiba bisa membuat suasana sedikit adem.

Meski Harga kebutuhan pokok jelang Ramadan dan nanti di jelang Lebaran juga dipastikan naik, tapi toh sebagai bangsa yang besar kita harus siap menghadapinya.

Siap tidak siap kita sudah terlibat di dalamnya. Mudah-mudahan Ramadan tahun ini bisa membuat kita semua lebih adem, lebih bijak dan melihat kejadian tidak hanya dari satu sisi.

Untuk pemegang kekuasaan dan pembantu-pembantunya diharapkan juga jangan terlena dengan riak-riak yang selalu hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebab, riak-riak kecil itu bisa saja menjadi gelombang jika tidak segera dicari solusinya.

Ramadan sudah di ambang pintu. Umat Muslim di seluruh dunia bersiap menyambut bulan suci yang penuh berkah. Di Indonesia, suasananya bahkan terasa jauh hari.

Sejak sebulan terakhir, televisi dan media digital dipenuhi iklan sirup, sarung, dan berbagai produk khas Ramadan—penanda bahwa bulan puasa segera tiba.

Namun, di balik semarak menyambut Ramadan, persoalan negeri belum juga usai. Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas. Dampaknya merembet ke mana-mana, terutama sektor pendidikan.

Kabar pilu datang dari Nusa Tenggara Timur. Seorang anak berusia 10 tahun diduga mengakhiri hidupnya karena malu uang sekolahnya sering terlambat dibayar.

Kategori :