Dalam RDP tersebut, anggota BPKH Amri Yusuf juga menjelaskan bahwa BPKH saat ini tengah berada dalam fase perubahan paradigma, dari sebelumnya berfokus pada pengadaan layanan menuju pendekatan investasi jangka panjang.
“Paradigma pengelolaan dana haji sudah bergeser. Dari pengadaan ke investasi, tetapi tetap dalam koridor kehati-hatian,” ujarnya.
BACA JUGA:Belajar Manajemen dan Layanan Terbaik, Lembaga Pendidikan Khadijah Kunjungi Senator Lia Istifhama
Lia Istifhama juga menyinggung pengelolaan Kampung Haji di Arab Saudi yang melibatkan Danantara sebagai mitra strategis. Ia meminta penjelasan agar investasi jangka panjang tersebut benar-benar memberikan manfaat nyata bagi jemaah.
Menjawab hal itu, BPKH menjelaskan bahwa dalam struktur permodalan Kampung Haji, Danantara berperan sebagai pihak yang membeli aset, termasuk hotel, sementara BPKH menjalankan fungsi pengelolaan dan operasional. Skema ini dipilih untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus meminimalkan risiko langsung terhadap dana haji.
BACA JUGA:Perkuat Identitas Kebangsaan, Senator Lia Dorong Revitalisasi Bahasa Daerah Jawa Timur
Menurut BPKH, pengembangan Kampung Haji dilakukan secara bertahap dan prudent, serta tidak ditujukan untuk keuntungan cepat. Manfaat utama yang diharapkan adalah efisiensi biaya haji, kepastian layanan, dan peningkatan kualitas pelayanan jemaah dalam jangka panjang.
BACA JUGA:Dari Doa hingga Teori Jarum Suntik, Pesan Senator Lia untuk Calon Influencer Muda
Menutup RDP, Lia Istifhama menegaskan bahwa peningkatan imbal hasil dana haji tetap penting, namun tidak boleh mengorbankan keamanan dana umat dan keadilan jemaah.
BACA JUGA:Serap Aspirasi di 16 Titik Jawa Timur, Senator Lia Istifhama Soroti Empat Isu Strategis Nasional
“Kita tidak sedang mengejar angka semata, tetapi memastikan dana haji dikelola aman, optimal, dan manfaatnya kembali ke jemaah,” pungkas Lia. (bin)