DUNIA penerbangan kembali berduka.
BACA JUGA:Rompi Oranye Itu Akhirnya Dilipat
Bukan karena teknologi yang kurang. Juga bukan karena manusia yang tidak cukup pintar. Justru karena kita terlalu sering lupa: alam tidak pernah mau diajak berunding.
BACA JUGA:Ancaman Superflu di Tengah Bayang-Bayang Covid-19
Sebuah pesawat ATR 42-500 terbang dari Yogyakarta menuju Makassar. Isinya hanya tiga penumpang. Mereka bukan pelancong. Bukan pula pebisnis. Mereka adalah staf Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sedang menjalankan tugas negara. Mengawasi laut dan ikan, dari udara.
BACA JUGA:Alam Berduka, Bandung Membara
Ironis, bukan?
BACA JUGA:Operasi Lilin dan Dosa Tahunan
Mereka terbang untuk menjaga laut. Tapi justru berhenti di gunung.
BACA JUGA:Sekali Isap, Langsung Narkotika
Pesawat itu membawa teknologi. Radar. Sistem navigasi. Prosedur keselamatan. Semua yang disebut modern. Semua yang membuat manusia percaya diri bisa menaklukkan langit.
BACA JUGA:Ketika Banjir Mencari Bupati
Namun Bulusaraung berkata lain.
BACA JUGA:Drama Tumbler Berbuah Surga
Gunung itu tidak ikut briefing. Tidak membaca SOP. Tidak peduli bahwa yang lewat adalah misi negara. Ia berdiri saja. Diam. Kokoh. Seperti sejak ratusan ribu tahun lalu.