Jawa Timur Komitmen Lawan Pasung ODGJ, Dinsos Tekankan Peran Keluarga

Senin 12-01-2026,16:58 WIB
Reporter : Lailatul Nur Aini
Editor : Ferry Ardi Setiawan

“Ada yang dikurung di kamar dengan pintu besi seperti penjara. Itu juga termasuk pasung,” tegasnya.

BACA JUGA:Shelter Ngawi Rusak Parah dan Ganggu Penanganan ODGJ

Menurutnya, faktor ekonomi, minimnya pemahaman keluarga, serta stigma bahwa ODGJ berbahaya dan tidak bisa sembuh masih menjadi penyebab utama praktik pasung bertahan.

BACA JUGA:Layanan Dapur Umum Dinsos Jatim Tingkatkan Porsi Makanan Korban Bencana Alam Aceh

“ODGJ itu bukan penyakit turunan, bukan menular, dan bukan berarti tidak produktif. Stigma-stigma inilah yang sedang kita lawan,” tutur Novi.

BACA JUGA:Bawa Sajam, Polsek Geneng Tindak Cepat ODGJ di Ngawi yang Resahkan Warga

Selain itu, Dinsos Jawa Timur telah memberikan pembekalan kepada keluarga sebelum ODGJ dipulangkan, termasuk pentingnya minum obat rutin dan kontrol ke puskesmas.

BACA JUGA:Pastikan Tepat Sasaran, Dinsos Jatim Verval Calon Penerima Manfaat Bantuan KIP KPM Jawara 2026

Namun, pengawasan jangka panjang membutuhkan peran aktif masyarakat, RT/RW, serta pemerintah desa.

BACA JUGA:Pendampingan Penanganan ODGJ di Prambon, Polres Nganjuk Tekankan Dampak Sosial dan Kamtibmas

Saat ini, penanganan ODGJ pasung dilakukan di UPT Binalaras di Kediri dan Pasuruan yang sempat mengalami kelebihan kapasitas.

BACA JUGA:Dinsos Jatim Torehkan Penghargaan Badan Publik Informatif

Novi menegaskan penanganan ODGJ tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Sosial. Dengan dukungan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, kapasitas balai ditingkatkan dari sekitar 200 orang menjadi lebih dari 350 orang per lokasi.

BACA JUGA:Dinsos Jatim Selamatkan Anak Telantar Asal Tegal yang Kabur dari Pondok

“Ini kerja bersama. Dinas kesehatan, pemerintah kabupaten/kota, sampai masyarakat harus terlibat. Kalau tidak, risiko repasung akan selalu ada,” pungkasnya. (ain)

Kategori :