Begitu ada kabar Bos Facebook Mark Zuckerberg dan Unilever dukung LGBT: grup WA saya banjir ajakan: boikot Unilever, boikot Facebook. Saya senang karena pertanda teman-teman masih punya ghirah (spirit) untuk membela yang haq. Lalu ada isu baru lagi, pembahasan RUU HIP di DPR. Umat heboh lagi. Ramai-ramai mendatangi gedung dewan di Senayan. Jauh lebih heboh dibanding dengan protes LGBT ke Unilever dan Facebook. Tokoh-tokoh level nasional bergabung. Berhasil. RUU HIP tak dibahas lagi, entah ditunda, entah dihentikan. Kita akan begini terus. Ada isu, protes, boikot. Israel aneksasi, protes, boikot. Tak ada yang salah. Kita menjadi umat yang responsif, reaktif. Ada isu, merespon. Isu...respon. Kapan membikin isunya? Kapan membuat yang lain ganti merespon, ganti yang reaktif. Kapan? Jika kita sudah menjadi umat yang kuat. Solid. Besar. Berpengaruh. Israel misalnya, adalah bangsa kecil, yang mula-mula, diaspora, bangsa yang bertebaran di mana-mana. Sampai Inggris yang saat itu menjadi kekuatan kolonial di Palestina mengeluarkan Deklarasi Balfour pada 1917 yang intinya mengizinkan Diaspora Yahudi untuk tinggal dan hidup di Palestina berdampingan secara damai. Bangsa Israel yang membesar semakin runyam, tak hanya mengambili tanah Palestina, tapi juga mencaplok tanah Yordania di bagian timur Yerusalem dan Mesir di Jalur Gaza. Kerunyaman Israel yang kelewat batas adalah memindah ibu kotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem yang didukung, lagi-lagi selalu AS, era Donald Trump. Mengapa Israel yang penduduknya hanya 9 juta bisa mengalahkan Palestina yang didukung 57 negara OKI? Karena dukungannya tidak kongkrit. Bahkan, seringkali malah berbeda pendapat. Sementara dukungan AS begitu kongkrit. Mengapa Yahudi di AS yang jumlahnya sama seperti Muslim di AS yang berkisar 7 juta lebih berpengaruh? Karena mereka menguasai ekonomi, media, dan Kongres. Di tanah air begitu juga. Meski secara fakta, kita mayoritas, tapi harus kita akui, sulit sekali untuk kompak, solid. Misalnya, ketika tokoh-tokoh nasional ke DPR memprotes RUU HIP yang lalu, ada tokoh lainnya yang tidak terlihat muncul. Selalu begitu, sulit untuk benar-benar kompak seluruh unsur. Partai politiknya lebih memprihatinkan lagi. Tak ada yang mendominasi. Sudah begitu mau saja diadu domba. Dari mana mengawalinya? Saya setuju seperti yang dikatakan bisnisman nasional Choirul Tanjung. "Kita harus bisa mengubah peradaban umat: dari kolot ke modern, dari kumuh ke bersih, bodoh ke pintar, dari miskin menjadi kaya raya," kata CT saat menerima MUI Award di Masjid Trans Studio Bandung 20 April 2015. Sekali lagi PR kita adalah mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi. Mari berusaha dengan riang gembira. Insya Allah Bisa! Salam KGI!(*) *Ali Murtadlo, Kabar Gembira Indonesia (KGI)
FB Dukung LGBT, Boikot..! Boikot..!
Minggu 28-06-2020,15:47 WIB
Reporter : Aziz Manna Memorandum
Editor : Aziz Manna Memorandum
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 08-02-2026,06:41 WIB
Polres Kediri Kota Beri Pengamanan Maksimal Pertandingan Persik Vs Dewa United
Minggu 08-02-2026,07:58 WIB
Nikmatnya Salat di Rooftop Masjidil Haram, Melangitkan Doa di Antara Desir Angin Malam
Minggu 08-02-2026,07:16 WIB
Comeback Manis Marc Bernal, Gol Perdana Pemain 18 Tahun Warnai Kemenangan Barcelona
Minggu 08-02-2026,11:08 WIB
Aksi Demo Selasa 10 Pebruari, Uji Taji DPRD Sidoarjo Akhiri Perang Dingin Eksekutif
Minggu 08-02-2026,16:02 WIB
Geger! Guru di Jember Diduga Telanjangi Murid karena Hilang Uang, Dispendik Beri Sanksi Keras
Terkini
Minggu 08-02-2026,22:12 WIB
BPBD Jatim Ikuti Sekolah Singkat Kebencanaan di Jepang untuk Penguatan Mitigasi Bencana
Minggu 08-02-2026,20:45 WIB
Satlantas Polres Kediri Kota Berikan Materi Lalu Lintas pada PKD dan Diklatsar GP Ansor
Minggu 08-02-2026,20:36 WIB
Polres Kediri Kota Dampingi Peningkatan Kemampuan Satpam BI di Hutan Pinus Kare
Minggu 08-02-2026,19:43 WIB
Komplotan Pencuri Kabel Tembaga di Surabaya Dibekuk Polsek Kenjeran
Minggu 08-02-2026,19:00 WIB