Kota Malang Jadi Tuan Rumah Rembug Fiskal APEKSI

Kamis 06-11-2025,20:47 WIB
Reporter : Ariful Huda
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Terpisah, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, yang juga menjabat Ketua Komisariat Wilayah IV APEKSI, menegaskan pentingnya memandang PAD secara lebih luas.

BACA JUGA:Wali Kota Malang Ajak Anak-Anak Belajar Makna Persahabatan Lewat Cerita Mimi dan Roro

“PAD bukan hanya soal pendapatan, tapi juga soal kemandirian, kreativitas, dan ketangguhan daerah dalam membiayai pembangunan kotanya sendiri,” jelasnya.

Penyelenggaraan Rembug Fiskal di Kota Malang ini juga menjadi momentum berbagi praktik baik antara anggota APEKSI dari berbagai kota di Indonesia.

BACA JUGA:Kolaborasi Tegakkan Hukum Humanis, Wali Kota Malang Siap Dukung Restorative Justice

Kota Malang menjadi contoh daerah yang berhasil memperkuat kemandirian fiskal melalui optimalisasi aset daerah, penyehatan BUMD, serta inovasi kebijakan dan komunikasi publik melalui berbagai kanal digital.

Melalui forum ini diharapkan semakin banyak daerah yang mampu mengembangkan strategi fiskal inovatif untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan kemandirian pembangunan di wilayah masing-masing.

BACA JUGA:Wali Kota Malang Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Cuaca Ekstrem

Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah peluncuran buku seri praktik baik berjudul “PAD Kota Kita: Bukan Sekadar Angka”.

Buku tersebut memotret berbagai strategi pengelolaan dan peningkatan PAD di sejumlah kota anggota APEKSI dalam empat klaster besar, yakni inovasi digital, reformasi kelembagaan, pemanfaatan aset dan pengelolaan kekayaan daerah, serta klaster tambahan yang menyoroti kota dengan basis fiskal rendah namun progresif, disebut klaster kota dengan lompatan besar.

BACA JUGA:Wali Kota Malang Harap Pelebaran Jembatan Kiai Malik Dalam Mampu Urai Kemacetan

Selain berbagi dalam ruang diskusi, peserta juga diajak menyelami praktik nyata melalui kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi, antara lain Command Center Bapenda sebagai pusat kendali digital layanan pajak daerah, area Gajayana dan Galeri Mbois sebagai contoh pengelolaan aset produktif, serta Malang Creative Center (MCC) sebagai ekosistem kolaboratif pelaku ekonomi kreatif.

BACA JUGA:Wali Kota Malang Tekankan Pentingnya SLF bagi Bangunan Ponpes

Kunjungan ini memperlihatkan bahwa kolaborasi antarsektor dapat menghadirkan inovasi fiskal berkelanjutan, sekaligus memperkenalkan Malang sebagai salah satu dari 58 kota yang masuk dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2025 dan menjadi kota pertama di Jawa Timur yang meraih pengakuan dunia di bidang media arts. (kmf/ari)

Kategori :