Desil Tak Sesuai, Mahasiswa Unesa Kesulitan Akses Beasiswa BeSMART
Diandra fristi Esfandiari Zulkarnain Menceritakan masalah Desil yang tidak sesuai--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID — Ketidaksesuaian data desil kembali menjadi masalah bagi mahasiswa kurang mampu dalam mengakses bantuan pendidikan.
Masalah tersebut dirasakan langsung oleh Diandra Fristi Esfandiari Zulkarnain, mahasiswi program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) semester 3 Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Diandra, yang berdomisili di Wonokromo Gang 1 No. 3, Surabaya, menceritakan pengalamannya sulitnya mendaftar Beasiswa BeSMART padahal dari sisi akademik ia memiliki pencapaian yang luar biasa dengan raihan IPK sempurna.
"Saya sudah coba daftar dari semester satu, tapi belum keterima, padahal alhamdulillah IPK semester satu saya 4, jadi saya cukup percaya diri untuk mendaftar karena ada syarat minimal IPK," kata Diandra, Kamis (20/8).

Mini kidi--
Kondisi ekonomi keluarganya pun tergolong sederhana. Ayahnya bekerja sebagai penyedia jasa air isi ulang, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
BACA JUGA:Wali Kota Eri Cahyadi Semprot Jajaran Soal Pungli Aset Pemkot, Bebaskan Retribusi Pedagang Desil 1–5
Persoalan kembali berlanjut saat ia mencoba mendaftar kembali di semester dua dan membentur aturan desil, sistem syarat pendaftaran Beasiswa Besmart mewajibkan penerima beasiswa berada di rentang desil 1 hingga 5.
"Awalnya saya belum tahu berapa desil saya, sampai kemudian mama memberi tahu kalau desil saya ternyata angka 7," tuturnya.
BACA JUGA:Terjebak Desil 5, Keluarga Miskin di Kaliwates Luput dari PKH, Dinsos Jember Janji Segera Intervensi
Setelah ditelusuri, Diandra menduga tingginya desil dipicu oleh kesalahan pengisian data saat survei awal, Diandra menjelaskan kekeliruan data yang tercantum pada sistem.
"Menurut Bu RT, data surveinya keliru. Di keterangan tercantum kalau saya bekerja sebagai karyawati, padahal waktu itu saya masih SMA, terus tertulis juga ayah saya punya tiga unit mobil, padahal sepeda motor saja kami tidak punya. Intinya pengisian data awal survei itu tidak akurat," ungkapnya.
Sumber:






