Festival Menjadi Gresik Sajikan Sejarah dan Budaya Kuliner di Kampung Kemasan
Bupati Fandi Akhmad Yani menghadiri malam pembukaan Festival Menjadi Gresik di Kampung Kemasan, Kecamatan Gresik.--
GRESIK, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Festival Menjadi Gresik Seri Gastronomi di Kampung Kemasan menyajikan sejarah dan budaya Gresik melalui kuliner, seni, dan studi kultural, Sabtu 15 Agustus 2026.
Perjalanan sejarah, budaya, dan kuliner Kabupaten Gresik diceritakan kembali oleh kelompok seni Yayasan Gang Sebelah melalui Festival “Menjadi Gresik” Seri Gastronomi. Festival tersebut mencoba menarasikan kota melalui sejumlah kuliner yang telah dirawat secara turun-temurun.

Mini kidi--
Pada pembukaan festival yang berlangsung di Kampung Kemasan, Sabtu malam, 15 Agustus 2026, diisi perjalanan sejarah dan proses penyajian sejumlah kuliner Gresik ditampilkan melalui film dokumenter.
Sejumlah kuliner tersebut yakni bandeng keropok, bubur roomo, dan jenang jubung yang cukup akrab bagi warga Gresik. Ketiganya disajikan gratis pada malam pembukaan dan dipamerkan untuk disaksikan umum di Kampung Kemasan hingga 30 Agustus 2026.
BACA JUGA:Kado Kemerdekaan dari Satlantas Polres Gresik, 17 Warga Kelahiran 17 Agustus Dapat SIM Gratis
Direktur Festival Menjadi Gresik Hidayatun Hikmah mengatakan, festival tersebut tidak hanya berhenti pada tema gastronomi, tetapi juga mempertemukan seni, budaya, sejarah, dan studi kultural untuk mengenalkan kembali kekayaan Gresik melalui beragam cara.
Pihaknya juga melakukan riset studi kultural yang melibatkan kelompok lintas disiplin. Setidaknya delapan kelompok dari kalangan seniman, sekolah, perguruan tinggi, hingga duta wisata mempresentasikan hasil riset dan karya mereka selama festival berlangsung.
Hasil riset tersebut juga dituangkan ke dalam e-magazine berjudul “Dapur Saji: Gresik Menjadi Dapur” yang dapat diakses dan menjadi panduan publik untuk menikmati pameran festival.
“Bagi kami, Gresik adalah dapur, tempat segalanya dimulai kemudian disajikan. Karena itu kami memilih tema Dapur Saji,” kata Hidayatun Hikmah.
BACA JUGA:Gelar Wayang Kulit, Petrokimia Gresik Tampilkan Dalang Binaan Sanggar Perusahaan
Tema makanan dipilih karena dinilai paling dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Meski begitu, keterlibatan berbagai kelompok justru menunjukkan bahwa Gresik memiliki sejarah dan kebudayaan yang dapat dibaca dari banyak perspektif.
“Literasi di sini tumbuh dengan baik. Kita punya banyak sejarah, kaya akan kebudayaan yang sangat beragam dan sangat bisa kita sajikan dengan berbagai macam cara,” ujarnya.
Dirinya mengungkapkan, gagasan festival telah mengemuka sejak dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya terlaksana. Festival ini pun direncanakan digelar setiap tahun dengan tema yang berbeda.
Sumber:





