Segitiga Cinta (1): Gairah Puber Kedua di Tengah Mahligai Rumah Tangga
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga dalam keharmonisan keluarga.--
Tiga puluh dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk merajut sebuah mahligai rumah tangga. Bagi Rara, Bima adalah segalanya—napas, pelindung, dan muara dari segala rindu yang pernah ia miliki.
Mereka telah mengecap asin-pahitnya kehidupan, merangkak dari lumpur kemiskinan hingga kini mampu berdiri di atas puncak kemewahan. Rumah megah bak istana dan mobil mengkilap yang berjejer di garasi menjadi saksi bisu keberhasilan mereka membesarkan dua buah hati hingga menjadi 'orang'.
Di mata malam yang benderang oleh lampu-lampu kota, mereka adalah sepasang dewa-dewi yang tak tersentuh nestapa. Namun, takdir acapkali menjadi sutradara yang kejam. Justru ketika ranjang pernikahan mereka terasa begitu empuk dan hangat, sebuah badai tak kasat mata mulai mengintai.
BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (6): Maafkan Bulan yang Terlambat Menjadi Istri

Mini Kidi Wipes.--
Badai itu tidak ditiup oleh himpitan ekonomi, bukan pula karena kutukan masa lalu. Melainkan karena gejolak aneh yang tiba-tiba bangkit di dalam dada Bima. Laki-laki itu... sedang merindukan masa mudanya yang telah mati.
Puber kedua. Sebuah kata yang mengerikan bagi setiap wanita yang mulai beranjak senja. Beberapa bulan terakhir, Rara merasakan ada yang bergeser dari diri suaminya.
Bima yang biasanya hangat dan gemar menghabiskan malam di sisinya sembari menonton televisi, kini berubah menjadi lelaki pesolek yang gila bola putih bernama golf. Hampir setiap fajar menyingsing, Bima telah rapi dengan pakaian olahraganya.
Bahkan aroma tubuhnya kini berubah—bukan lagi wangi minyak rambut melati yang biasa, melainkan parfum import beraroma maskulin yang menyengat hidung. Rambutnya yang mulai memutih perak pun kini legam kembali oleh cat hitam.
BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (5): Janji yang Kini Mulai Dikhianati

Gempur Rokok Illegal--
Suatu pagi, di depan cermin besar kamarnya, Bima berdiri tegak mematut diri sembari membusungkan dada. Rara yang sedang merapikan sprei ranjang tersenyum getir, menyembunyikan sebentuk cemas yang mulai merayap di dadanya.
"Mas mau main golf atau mau menggoda gadis-gadis remaja di luar sana? Rapi sekali..." goda Rara, mencoba mencairkan keheningan. Bima terkekeh, suara ngebass-nya bergetar di udara kamar yang dingin oleh AC.
"Ah, kau ini ada-ada saja, Rara. Apakah lelaki yang mulai uzur sepertiku tidak boleh tampil gagah?"ucap Bima. "Tentu boleh, Mas. Tapi ingat... jangan sampai lupa umur. Keriput di sudut mata kita tidak bisa dibohongi oleh sebotol parfum mahal."
Bima hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang aneh, yang membuat dada Rara mendadak berdesir perih. Ada rahasia yang sengaja disembunyikan di balik lengkung bibir itu. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:






