Rubrik Sejuta Kisah Rumah Tangga Menembus Ruang Digital
Dr. Anis Tiana Pottag, S.H., M.H., M.Kn., M.M.--
Dr. Anis Tiana Pottag, S.H., M.H., M.Kn., M.M.
Executive Editor & Business Development Memorandum Media sekaligus pengasuh rubrik Sejuta Kisah Rumah Tangga di Harian Memorandum
“Rumah tangga itu sesungguhnya ruang paling sunyi sekaligus paling ramai dalam kehidupan manusia. Di sanalah cinta tumbuh, konflik lahir, pengorbanan diuji, dan masa depan anak-anak dipertaruhkan.”
Kalimat itu kerap menjadi pembuka dalam benak Dr. Anis Tiana Pottag, S.H., M.H., M.Kn., M.M. setiap kali menerima kisah baru dari para pembaca. Selama bertahun-tahun, ia menyaksikan bagaimana persoalan keluarga tidak pernah benar-benar sederhana. Di balik meja makan, di ruang tamu kecil, bahkan di balik unggahan media sosial, tersimpan begitu banyak cerita yang sering kali tak pernah menemukan tempat untuk didengar.
BACA JUGA:Sambut HUT ke-8 Memorandum Online, Keluarga Besar Memorandum Gelar Tasyakuran

Mini Kidi Wipes.--
Melalui rubrik Sejuta Kisah Rumah Tangga di Harian Memorandum, Anis mencoba membuka ruang itu. Ia tak ingin hukum hanya dipahami sebagai pasal-pasal yang kaku. Baginya, hukum keluarga harus hadir lebih dekat, membumi, dan mampu menyentuh persoalan nyata masyarakat.
“Banyak orang takut bicara soal rumah tangga. Ada yang malu, ada yang bingung harus mengadu ke mana. Padahal persoalan keluarga itu bukan sekadar urusan privat. Dampaknya bisa sosial, psikologis, bahkan ekonomi,” ujarnya.
Kini, rubrik yang sebelumnya hanya hadir di media cetak itu melangkah ke dunia digital. Bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menyesuaikan cara masyarakat menerima informasi. Orang tidak lagi hanya membaca koran pagi. Mereka mendengar podcast di perjalanan, menonton potongan video pendek di media sosial, lalu mencari referensi lebih lengkap melalui portal berita.
BACA JUGA:HUT Memorandum Online, Advokat Jhon A. Christiaan: Media Harus Cepat, Akurat dan Menjaga Integritas

Gempur Rokok Illegal--
Karena itu, Sejuta Kisah Rumah Tangga mulai hadir di berbagai platform: podcast, Memorandum Online, YouTube Memorandum TV, hingga Instagram dan TikTok. Langkah ini membuat ruang konsultasi dan edukasi keluarga menjadi lebih hidup dan interaktif.
Di tangan Anis, rubrik ini tidak hanya bicara soal perceraian atau konflik suami istri. Pembahasannya meluas hingga hak anak, warisan, perjanjian kawin, bisnis keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kisah-kisah inspiratif yang memberi harapan.
“Keunggulan rubrik ini bukan sekadar membahas masalah, tetapi mencoba memberi pemahaman dan jalan keluar. Kami ingin masyarakat merasa ditemani, bukan dihakimi,” katanya.
BACA JUGA:Rumah yang Penuh Ketakutan (1): Selalu Salah di Matamu
Ia percaya, di era digital, media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga ruang pendampingan sosial. Karena itu, Sejuta Kisah Rumah Tangga dirancang dengan pendekatan yang lebih personal: bahasa yang ringan, pembahasan yang aplikatif, serta kemasan multimedia yang mudah dipahami lintas generasi.
Sumber:











