Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Cognitive Dissonance pada Makanan, Saat Keinginan dan Logika Saling Bertabrakan

Cognitive Dissonance pada Makanan, Saat Keinginan dan Logika Saling Bertabrakan

Ilustrasi: Magnific--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Pernah merasa sangat ingin makan makanan manis, creamy, atau junk food, tetapi setelah memakannya justru muncul rasa bersalah? Kondisi ini dalam psikologi disebut cognitive dissonance atau disonansi kognitif, yaitu rasa tidak nyaman ketika tindakan yang dilakukan bertentangan dengan keyakinan atau nilai yang dimiliki. 

Dalam konteks makanan, kondisi ini sering muncul saat seseorang menikmati makanan tertentu tetapi di saat yang sama sadar bahwa makanan tersebut kurang baik bagi kesehatan atau bertentangan dengan prinsip hidupnya.

BACA JUGA:Waspada! Deretan Makanan dan Minuman Ini Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Tulang


Mini Kidi Wipes.--

Disonansi kognitif terjadi karena otak menerima dua dorongan yang saling bertolak belakang dalam waktu bersamaan. Satu sisi muncul rasa senang dan puas karena makanan terasa enak, namun di sisi lain muncul kekhawatiran tentang kesehatan, berat badan, atau nilai moral tertentu. Benturan inilah yang kemudian memicu rasa bersalah, cemas, atau bahkan penyesalan setelah makan.

1. Konflik antara Keinginan dan Kesehatan

Bentuk paling umum dari cognitive dissonance pada makanan adalah saat seseorang mengonsumsi makanan yang sebenarnya ia tahu kurang sehat, seperti gorengan, makanan cepat saji, atau minuman tinggi gula. Meskipun sadar dampaknya tidak baik untuk tubuh, rasa suka dan keinginan sesaat membuat makanan itu tetap dikonsumsi.

BACA JUGA:Makanan Frozen Tidak Kehilangan Nutrisi, Ini Penjelasan Ilmiah

Akibatnya, setelah makan muncul pikiran seperti:

1. “Tadi aku lagi diet, kenapa malah makan ini?”

2. “Besok harus olahraga lebih keras.”

3. “Harusnya aku nggak makan sebanyak itu.”

Perasaan tersebut menunjukkan adanya benturan antara hasrat dan logika kesehatan.

2. Disonansi Moral dalam Pola Makan

Sumber: