Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Cognitive Dissonance pada Makanan, Saat Keinginan dan Logika Saling Bertabrakan

Cognitive Dissonance pada Makanan, Saat Keinginan dan Logika Saling Bertabrakan

Ilustrasi: Magnific--

Selain soal kesehatan, disonansi juga bisa muncul dari sisi moral. Contohnya terjadi pada seseorang yang sangat peduli terhadap kesejahteraan hewan tetapi masih mengonsumsi daging. Kondisi ini sering disebut meat paradox atau paradoks konsumsi daging.

BACA JUGA:Lima Makanan Pencegah Stunting yang Wajib Diketahui Orang Tua

Untuk mengurangi rasa tidak nyaman, seseorang biasanya akan mencari pembenaran tertentu, seperti:

1. “Manusia memang makan daging sejak dulu.”

2. “Aku cuma makan secukupnya.”

3. “Yang penting hewannya dipelihara dengan baik.”

Hal ini dilakukan otak sebagai cara untuk meredakan konflik batin agar tetap merasa nyaman dengan pilihan yang diambil.

BACA JUGA:Alasan Makanan Manis Dapat Meningkatkan Mood

Kenapa Kondisi Ini Sangat Normal?

Cognitive dissonance sebenarnya merupakan bagian alami dari cara kerja manusia. Setiap orang pernah mengalami situasi ketika keinginan emosional bertabrakan dengan prinsip atau pengetahuan yang dimiliki. Dalam dunia makanan, hal ini semakin sering terjadi karena makanan tidak hanya berkaitan dengan rasa lapar, tetapi juga emosi, kebiasaan, kenyamanan, hingga budaya.

Makanan tertentu sering menjadi bentuk self reward atau pelarian stres, sehingga meskipun sadar tidak sehat, seseorang tetap ingin mengonsumsinya karena memberikan rasa nyaman secara emosional.


Gempur Rokok Illegal--

Cara Mengurangi Cognitive Dissonance pada Makanan

1. Mengonsumsi makanan favorit dalam porsi wajar tanpa rasa takut berlebihan

2. Tidak memberi label “makanan baik” dan “makanan buruk” secara ekstrem

Sumber: