Bukan Sekadar Pelatihan, Program MTU Jatim Pastikan Skill Siswa SMK Terukur Sesuai Standar Industri
MTU hadirkan peralatan canggih dengan standar yang ketat.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Program Mobile Training Unit (MTU) kembali dihadirkan dengan standar yang lebih ketat. Tak hanya membawa peralatan canggih ke halaman sekolah, Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) memastikan kompetensi 150 siswa yang terlibat benar-benar terdata secara objektif melalui sistem evaluasi berlapis.
Kadindik Jatim Aries Agung Paewai menerangkan, setiap peserta wajib melewati pre-test dan post-test untuk mengukur sejauh mana peningkatan kemampuan mereka setelah mengikuti pelatihan intensif selama enam hari. Hal ini dilakukan untuk menjamin efektivitas pengiriman instruktur dan peralatan besar ke lokasi.
BACA JUGA:Perkuat Skill Siswa Vokasi, Dindik Jatim Hadirkan Alat Industri ke Sekolah Lewat Program MTU

Mini Kidi Wipes.--
“Kita tidak ingin mengirim peralatan besar beserta instruktur selama seminggu tanpa hasil yang linier. Karena itu ada pretest dan post test untuk mengukur capaian siswa,” tegas Aries, Selasa, 3 Maret 2026.
Sementara itu, Kepala UPT PTKK, Endang Wanarsih, menambahkan bahwa kehadiran MTU bertujuan memangkas jarak antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan nyata di dunia kerja. Dengan peralatan yang dibawa langsung ke sekolah, siswa bisa merasakan pengalaman praktik menggunakan alat yang lazim digunakan di bengkel dan industri besar.
BACA JUGA:Tingkatkan Mutu Pendidikan, Kadindik Jatim Tinjau Kelayakan Sarpras di SMA/SMK
“Kegiatan ini meningkatkan akses pembelajaran keterampilan bagi siswa. Dengan sarana yang dibawa MTU, siswa bisa belajar langsung menggunakan peralatan sesuai standar industri,” ujarnya.

Gempur Rokok Illegal--
Kegiatan yang dipusatkan di Malang Raya ini diikuti sekitar 30 siswa untuk setiap kompetensi. Sehingga total peserta mencapai 150 orang. Dalam satu kompetensi, peserta bisa berasal dari hingga empat sekolah berbeda. Narasumber berasal dari guru sekolah serta praktisi atau instruktur profesional.
Salah satu instruktur praktisi, Widianto, menyebut target utamanya adalah kemandirian siswa. “Targetnya siswa mampu melakukan servis ringan. Materinya selaras dengan yang ada di sekolah, tapi kita perdalam lagi sesuai standar terkini,” jelasnya.(bin)
Sumber:




