selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Sujud Teduh Putri Pendeta Gereja Bethany, Jemput Hidayah Lewat Kepolosan Sang Buah Hati

Sujud Teduh Putri Pendeta Gereja Bethany, Jemput Hidayah Lewat Kepolosan Sang Buah Hati

Gloria Woen bersama anak-anak yang tergabung dalam Majelis Rumah Singgah Mualaf.-Wendy Setiawan-

Di bawah terik matahari Gunung Anyar, Gloria Woen (48), menjalani kesehariannya dengan keteguhan yang telah ia pupuk selama lebih dari dua dekade.

Ibu dua anak ini merupakan seorang mualaf yang memiliki latar belakang keluarga yang tidak biasa bagi perjalanannya saat ini. Ia adalah putri dari pasangan pendeta di Gereja Bethany.

BACA JUGA:Ikhtiar Icha Yustin Kwandou Mendalami Makna Tauhid, Antara Restu Ibu dan Panggilan Kalbu

Keputusannya memeluk Islam pada 2002 bukanlah perkara mudah, melainkan sebuah jalan terjal yang penuh dengan pergolakan batin dan keretakan hubungan keluarga intinya yang sangat taat pada ajaran Nasrani. 

Sejak kecil, Gloria dibesarkan dalam lingkungan pelayanan gereja yang kental, sehingga tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari ia akan memilih jalan yang berbeda sepenuhnya dari kedua orang tuanya.

"Tahun pastinya aku mualaf kapan, lupa. Pokoknya waktu ramai momen Bom Bali I. Pokoknya waktu anakku yang nomor satu usia tiga tahunan mau masuk Play Grup. Itu saya menyatakan mualaf," kenang Gloria saat mengawali pembicaraan pada Senin 23 Februari 2025.

Kehidupan rumah tangganya bersama suami yang muslim menjadi pemicu awal tumbuhnya benih-benih pertanyaan dalam dirinya.

BACA JUGA:Perjalanan Iman dan Toleransi Tanjaya, Cahaya Hati di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya

Meski awalnya ia menjadi satu-satunya penganut Kristen di rumah itu, melihat suami dan anaknya beribadah setiap hari mulai menggetarkan hatinya. Menariknya, hidayah itu datang bukan melalui perdebatan teologis yang rumit, melainkan melalui kepolosan sang buah hati.

"Saya masuk muslim itu karena anak saya. Anak saya yang nomor satu itu yang paling pengaruh. Orang tua saya itu Nasrani. Bapak sama Mama saya itu pendeta di Gereja Bethany, dulunya. Sekarang beliau sudah meninggal," tambah Gloria dengan nada yang dalam.

Langkah besar itu ia mantapkan di Masjid Al-Wahyu. Sebelum resmi bersyahadat, ia sempat mencoba untuk salat meski belum menguasai bahasa Arab maupun bacaan salat secara sempurna.

BACA JUGA:Kisah Sejuk Liana Wardani, Islam dan Meja Makan Lintas Iman

Dalam sujud terakhirnya kala itu, dengan tubuh gemetar dan air mata yang mengalir deras, ia berdoa dengan bahasa hatinya sendiri bahwa ia ingin mengikuti Tuhan meski belum sepenuhnya mengenal-Nya.

Namun, kedamaian spiritual yang ia temukan harus dibayar mahal dengan ketegangan di rumah orang tuanya. Setiap kunjungan yang semula penuh kasih berubah menjadi medan perdebatan agama yang tak kunjung reda.

Sumber: