Merinding Baca Syahadat, Kisah Perjalanan Spiritual Angga Wibisono Jadi Mualaf
Angga Wibisono (kiri) bersama Mualaf Center Surabaya ketika menggelar bakti sosial dengan memberikan bingkisan kepada anak yatim piatu.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Perjalanan spiritual kerap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang. Tidak sedikit yang akhirnya menemukan ketenangan batin lewat mualaf.

Mini Kidi--
Seperti kisah yang diceritakan oleh Angga Wibisono (35) asal Surabaya. Mayoritas keluarganya non-muslim. Tapi dirinya memeluk Islam di antara tahun 2006-2007. Angga tidak begitu mengingatnya. Tapi yang pasti, saat itu dia masih duduk di bangku SMA.
"Pertama yang mualaf itu Bapak. Dulu waktu SD-SMP awal itu masih belum tahu, salat itu apasih? Tujuannya apa? Kita belum tahu. Bahasanya juga Arab, kita gak terlalu paham," katanya, Rabu 18 Februari 2026
BACA JUGA:Lia Istifhama Raih DMI Award 2026, Apresiasi Inovasi Mualaf Center di Gresik
Saat SMA, dia nekat masuk sekolah berbasis Islam. Di sana dia belajar mendalami Islam meski belum tahu esensi salat, puasa, dan mengaji. Angga hanya mengikuti perintah bapaknya saja. Hingga dia menjadi muslim.
"Saat itu mungkin ada guru yang curiga ya, Tampilan luarku kan Cina, terus dari gerak-gerikku itu mungkin beliau tidak yakin kalau aku memeluk Islam. Ketika di pelajaran Fiqih, beliau tanya ke saya kalimat syahadat dan artinya itu seperti apa. Saya disuruh baca," lanjutnya.
Posisi Angga saat itu di kelas. Banyak teman-temannya yang ramai mengobrol satu sama lain. Dia dipanggil menghadap ke meja guru dan diminta mengucap syahadat. Itu pengucapan syahadat yang kedua kalinya. Namun saat itu ada rasa yang berbeda dalam dirinya.
"Ketika di ruang kelas itu aku merasa tiba-tiba ruangan jadi hening banget. Saat aku mengucap kalimat syahadat itu aku merinding sebadan-badan. Dari sekian banyak salat, aku tidak pernah merasakan sensasi seperti itu. Saat itu memang keyakinan Islamku sangat minim banget," terangnya.
BACA JUGA:Selami Sejarah Islam, Jemaah Umrah Bakkah Travel Telusuri Jejak Rasulullah di Madinah
Sejak saat itu dia mulai mendalami Islam. Tidak hanya sekadar ibadah untuk menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu. Bahkan dia bertemu dengan salah satu tokoh mualaf yang kini sudah wafat hingga mendapat banyak pencerahan.
"Gak tau gimana ceritanya, aku kenal sama Gus Steven Indra Wibowo, Mualaf Center Jakarta Pusat. Ketika ketemu sama orangnya terus sering ngobrol, diajak tukar pikiran," paparnya.
Akhirnya ada hal yang bisa dia ambil dari agama sebelah. Nabi Isa ketika berdoa, masuk ke bait Allah itu dia yakini mirip sama Islam.
"Harus bersuci dulu, harus melepas tali kasutnya. Ketika berdoa tangannya ditelungkupkan. Bukan tepuk tangan, bukan bernyanyi. Nah disitu aku mulai menggali," pungkas bapak satau anak ini.
Sumber:



