HPN 2026

Di Era Serba Lebih, Mengapa Merasa Cukup Justru Menyelamatkan untuk Meraih Kebahagiaan

Di Era Serba Lebih, Mengapa Merasa Cukup Justru Menyelamatkan untuk Meraih Kebahagiaan

-Ilustrasi (sumber foto: freepik)-

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Di tengah arus informasi saat ini yang bergerak cepat dan budaya pencarian yang begitu nyaris tanpa jeda, kata cukup terdengar asing.

BACA JUGA:Thrifting, Gaya Hidup Anak Muda Kurangi Limbah Fashion dan Hemat Budget

Media sosial memenuhi etalase keberhasilan: rumah yang lebih besar, karier yang lebih tinggi, gaya hidup yang lebih mewah. Tanpa disadari, standar kebahagiaan pun bergeser bukan lagi soal kepuasan, melainkan soal selalu bertambah.


Mini Kidi--

Budaya serba lebih ini perlahan membentuk cara manusia memandang dirinya sendiri. Banyak orang merasa tertinggal bukan karena kurang, melainkan karena membandingkan. Padahal di balik ambisi yang terus dipacu, ada kelelahan mental yang jarang dibicarakan. Lelah karena merasa harus selalu naik, selalu berkembang, selalu lebih baik dari kemarin tanpa ruang untuk berhenti dan bertanya: apakah ini sudah cukup?

Berikut beberapa penjelasan bagaimana memahami makna “cukup” dari berbagai sisi kehidupan:

BACA JUGA:Minum Matcha saat Diet, Tren Gaya Hidup Sehat yang Kian Digemari Anak Muda

1. Hidup Sederhana Bukan Berarti Kekurangan

Hidup sederhana sering kali disalahpahami sebagai hidup dengan keterbatasan. Padahal, kesederhanaannya bukan tentang menolak kemajuan, melainkan tentang memilih dengan sadar. Sederhana berarti mengetahui mana yang dibutuhkan dan mana yang diinginkan. Ia adalah kemampuan untuk tidak selalu mengikuti arus, serta keberanian untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang menguras tenaga tanpa memberi makna.

Dalam konteks ini, cukup bukan ukuran angka, melainkan soal rasa. Cukup ketika kebutuhan dasar terpenuhi, hubungan terjaga, dan diri tidak terus-menerus dikejar rasa kurang. Banyak orang yang secara materi berlebihan, namun secara batin kekurangan ketenangan. Sebaliknya, ada yang menjalani hidup biasa saja, namun mampu merasa damai karena tidak menggantungkan nilai diri pada pengakuan luar.

BACA JUGA:Saat 'Fun Run' Jadi Gaya Hidup Paling Hits Saat Ini

2. Kesehatan Mental di Balik Ambisi

Tekanan untuk selalu lebih berdampak langsung pada kesehatan mental. Rasa cemas, takut tertinggal, hingga kelelahan emosional sering muncul dari ekspektasi yang tak pernah selesai. Ketika produktivitas menjadi tolok ukur utama, istirahat pun dianggap kemewahan, bukan kebutuhan.

Padahal, kesehatan mental tumbuh dari keseimbangan. Dari kemampuan menerima bahwa tidak semua hal harus dikejar, dan tidak semua peluang harus diambil. Mengakui batas diri bukan tanda lemah, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Dalam dunia yang mengagungkan produktivitas, memilih berhenti sejenak adalah tindakan yang revolusioner.

Sumber: