Karut-Marut Proyek TPS Pasar Keputran Selatan, DPRD Komisi B: Mirip Kandang Ayam
Anggota Komisi B DPRD Surabaya Budi Leksono melakukan sidak di Pasar Keputran Selatan.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Proyek pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS) bagi pedagang Pasar Keputran Selatan menuai sorotan tajam. Komisi B DPRD Surabaya melontarkan kritik keras terkait manajemen perencanaan yang dianggap amburadul, transparansi anggaran yang minim, hingga kualitas bangunan yang dinilai jauh dari standar kelayakan.

Mini Kidi--
Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono, mengungkapkan adanya ketidakberesan dalam realisasi anggaran di lapangan. Ia menyoroti munculnya dua gelombang pendanaan yang tidak sinkron dengan perencanaan awal.
"Lelang itu seharusnya satu paket nilai dan menjadi tanggung jawab penuh. Tapi di lapangan, ada dua termin. Pertama sekitar Rp433 juta, lalu muncul gelombang kedua sekitar Rp68 juta tanpa kejelasan. Saat kami minta data valid pemenang lelang dan detail tanggung jawab pengerjaan, pihak terkait justru terkesan menutup diri," ujar Budi.
BACA JUGA:Komisi B DPRD Surabaya Dorong Regulasi Tegas Rumah Pemotongan Unggas
Kecurigaan semakin menguat setelah Buleks, sapaan karib Budi Leksono, melakukan audit rincian biaya per unit lapak. Dalam pembangunan TPS 1 yang mengeluarkan anggaran sekitar Rp433 juta, total ada 207 stan. Sedangkan pembangunan TPS 2 mencapai Rp68 juta untuk 50 stan.
Jika dirinci, pembangunan TPS 1 per stan bisa memakan Rp2 juta, sementara TPS 2 per stan hanya Rp1,3 juta.
"Seringkali, volume pekerjaan yang lebih besar seharusnya bisa menekan harga. Ini justru terbalik padahal komposisi bangunannya sama. Kami menduga ada potensi penyelewengan anggaran di sini," tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.
Tak hanya soal angka, kondisi fisik bangunan pun memprihatinkan. Bukannya menyediakan sekat-sekat toko yang aman untuk menyimpan barang dagangan, TPS yang tersedia hanya berupa los terbuka yang sempit.
Budi menggambarkan kondisi tersebut secara lugas. Yakni, ibarat kandang ayam. Hanya terbuat dari kayu ringkih, lalu sisanya atap yang mudah ambrol. Bahkan sebagian titik sudah ada yang bocor.
"TPS untuk pedagang kondisinya tidak manusiawi. Terkesan seperti kandang ayam. Tapi memakan anggaran hingga Rp500 juta. Padahal pedagang itu perlu tempat yang layak untuk melindungi komoditas bahan pangan maupun kebutuhan pokok," tegasnya.
BACA JUGA:Komisi B DPRD Jatim Minta Pemprov Perbaiki Kinerja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Kekacauan ini diduga berakar dari buruknya komunikasi antara PD Pasar Surya dengan para pedagang. Tanpa adanya survei kebutuhan atau dialog sebelum pembongkaran, para pedagang kini terpaksa berjualan di pinggir jalan karena fasilitas TPS belum siap pakai.
Sumber:
